Sunday, July 30, 2017

Earth Brick and Stone: Setengah Jalan

Ini adalah bagian keempat dari cerita tentang perjalanan saya bekerja membantu pembangunan di Nepal menjalankan projek dari Engineers Without Borders, Juli 2017 lalu
Bagian 1: klik di sini
Bagian 2: klik di sini
Bagian 3: klik di sini
Bagian 4: klik di sini
Bagian 5: klik di sini


2 minggu sudah berlalu sejak saya dan Johan mulai bekerja. Kami sudah setengah jalan menjalankan proyek volunteering membantu rehabilitasi daerah yang terkena gempa bumi 2015 lalu. Nepal selalu memberikan kejutan bagi kami. Budayanya sangat kaya, orang-orangnya ramah, dan makanannya memiliki rasa yang unik (mirip sama negara kita in its own way). Setiap hari seolah-olah adalah petualangan baru bagi kami.




Arsitektur Nepal yang Unik

Bekerja di Nepal memerlukan banyak penyesuaian. Bagi orang yang telah terbiasa dengan gaya hidup kota atau gaya hidup barat dengan segala produktivitas, efektivitas, dan ketepatan waktunya, yang dibutuhkan adalah banyak sabarnya. Orang-orang bekerja tanpa terorganisir, banyak orang bekerja menyelesaikan gejala dari masalah tapi tidak menyelesaikan akar masalahnya, dan tradisi ngaret alias telat sangatlah lumrah di sini. Dan dengan ngaret, maksud saya dalam skala jam-jaman.


Saat Pelatihan di Desa Deurali

Berkomunikasi dengan Enginner dari Build up Nepal

Language barrier juga jadi masalah di sini. Tidak banyak orang yang bisa bahasa inggris (apa lagi bahasa Indonesia)...kami pun tidak bisa berbahasa Nepal. Kami hanya tahu beberapa kata, seperti namaste, matu, dunga, dhal bat, dan pani (bahkan saya gak yakin kalau itu ditulis dengan benar). Dan seperti orang India, orang Nepal menggelengkan kepalanya sebagai "YA" (biasanya kan geleng-geleng kepala artinya tidak). Jadi sering juga komunikasi menjadi agak awkward karenanya.

Walaupun begitu, saya kagum kepada orang-orang Nepal. Mereka mirip dengan Indonesia, ada banyak agama di sana. Namun kerukunan beragama jauh lebih terasa daripada Indonesia. Mereka hidup di negara dengan infrastruktur yang sangat tidak memadai. Nepal bahkan tidak memiliki kereta api dalam negeri, sehingga transportasi orang dan logistik dilakukan dengan transportasi darat lain seperti truk dan bus. Masalahnya hampir semua jalanan di Nepal melewati bukit-bukit dan pegunungan. Hanya ada 1 jalan raya nasional yang menghubungkan Kathmandu dan distrik (provinsi) lainnya, yang lebarnya juga tidak seberapa dan batas kecepatannya sangat rendah. Kendaraan-kendaraan harus memutari gunung karena jika dibuat terowongan, resikonya terlalu besar karena ada ancaman gempa bumi. Perjalanan ke desa yang berjarak 30 kilometer saja perlu waktu lebih dari 4 jam menggunakan mobil.


                                                   Jalanan dari Kathmandu ke Deurali

Saat mobil tersangkut di lubang, kami harus menggali. Hal ini dilakukan paling tidak 3 kali sepanjang perjalanan ke Deurali

Karena banyak desa yang terletak di pegunungan, sulit untuk menjangkau mereka. Jalanan yang menghubungkan daerah ke daerah hampir semuanya tidak diaspal. Musim hujan memperburuk keadaan. Jalanan akan menjadi licin karena lumpur dan resiko longsor meningkat beberapa kali lipat. Hal inilah yang menyebabkan hingga sekarang, banyak desa yang belum sepenuhnya dibangun kembali sejak 2015. Karena sulit untuk mengantarkan bahan bangunan, banyak orang hidup di gubuk sementara bahkan hingga sekarang.


Kondisi tempat tinggal sementara di Deurali

Beberapa tempat di daerah perkotaan juga belum selesai dibangun kembali

Build up Nepal (BuN), perusahaan non-profit tempat kami bekerja, mendedikasikan diri mereka untuk membangun desa-desa yang terserang gempa bumi bersama dengan banyak organisasi non-profit lainnya. Karena tidak mudah mengantarkan bahan bangunan seperti semen, pasir, dan bata dalam jumlah banyak ke desa-desa, mereka memutuskan untuk menggunakan material lokal. Berkolaborasi dengan pengusaha lokal di desa, BuN menyediakan mesin press untuk memproduksi CSEB (bata tanah terkompresi) dan pelatihan bagaimana membuatnya serta mambangun bangunan darinya. CSEB (bata tanah) adalah pilihan yang baik karena dapat digunakan menggunakan bahan lokal (tanag dan pasir, dengan sedikit tambahan semen) dan tidak perlu dibakar layaknya bata pada umumnya (yang mengkonsumsi sangat banyak energi dan membuat polusi). Setelah kami mengadakan pelatihan, semua bergantung pada pengusaha dan penduduk desa untuk mengatur produksi dan proses pembangunan di desa. Dengan begini, produksi bata tanah juga menciptakan lapangan pekerjaan.


Tanah lokal

Tenaga kerja lokal

Menghasilkan bahan bangunan ramah lingkungan

Setelah kembali dari desa Deurali dan melihat langsung pentingnya penyediaan mesin tekan bata, kami harus bekerja mencari solusi dari masalah yang substansial. BuN telah memasang mesin CSEB di puluhan desa. Beberapa sudah menjalankan proses pembangunan selama 1 tahun dengan produksi ribuan batu bata. Di sinilah masalah pada mesin mulai terjadi. Mesin mulai kehilangan kekuatannya dalam memberi tekanan setelah beberapa bulan digunakan. Alasannya adalah karena bagian yang terkena gaya terbesar pada mesin tidak dibuat menggunakan material yang cukup kuat, sehingga bagian tersebut rusak. Terlebih lagi, mesin tidak didesain untuk mengganti bagian tersebut dengan mudah dan bagian tersebut tidaklah mudah dilihat untuk diperiksa. Penggantian bagian tersebut perlu dilakukan di bengkel BuN.

Nah, ini masalah besarnya. Saat mesin rusak, mesin perlu dibawa ke bengkel BuN di Kathmandu. Namun, seperti sudah kubilang, sistem transportasi di Nepal sangat memusingkan. Jadi, mengirim supir untuk pergi ke desa, mengambil mesin, dan membawanya kembali ke BuN butuh 2 hari 1 malam. Membetulkan mesinnya sendiri tidak masalah. Mungkin hanya butuh 30-60 menit. Tapi mesinnya harus dibawa lagi ke desa...sehingga totalnya sekitar 3 hari terbuang hanya untuk memperbaiki mesin yang bisa dilakukan selama 1 jam. Ada 30 mesin di seluruh Nepal yang diprediksi akan segera mengalami masalah ini. Jadi, kami merumuskan solusi jangka panjang untuk masalah ini. Kami mendesain ulang mesin CSEB. Capaiannya adalah, saat masalah terjadi, pegawai BuN di lapangan bisa dengan mudah mengganti bagian rusak tadi hanya dengan alat-alat terbatas yang ada di desa.

Foto Bersama Simon, pengusaha dari Deurali

Kami hanya memiliki 2 minggu untuk menyelesaikan semua. Kami juga harus merapihkan bengkel BuN. Bengkel BuN tidak memiliki ventilasi, alat-alat keselamatan standar, dan beberapa kebutuhan dasar seperti masker dan P3K.


The workshop of Build up Nepal

Tunggu kelanjutannya ya!


No comments:

Post a Comment

Earth Brick and Stone: Workshop Frenzy