Wednesday, December 27, 2017

Earth Brick and Stone: Workshop Frenzy

Ini adalah bagian kelima dari cerita tentang perjalanan saya bekerja membantu pembangunan di Nepal menjalankan projek dari Engineers Without Borders, Juli 2017 lalu
Bagian 1: klik di sini
Bagian 2: klik di sini
Bagian 3: klik di sini
Bagian 4: klik di sini
Bagian 5: klik di sini




Setelah menyelesaikan perjalanan dan pekerjaan di Desa Deurali, saya dan Johan menghabiskan akhir pekan dengan bersantai. Kami, bersama pelajar dari Swedia lainnya mengunjungi beberapa landmark yang ada di Patan, daerah tempat kami tinggal.

  

Bergaya di Durbar Square. Tempat shooting film Dr. Strange


Suasana jalanan di Nepal

Perjalanan dan aktivitas di Deurali membuat kami sadar akan pentingnya keberhasilan Build up Nepal dalam mendistribusikan mesin CSEB serta mengadakan pelatihan bagi para penduduk desa terpencil demi membantu pembangunan dan rehabilitasi Nepal. Masalah yang akan kami hadapi adalah bagaimana membuat mesin CSEB yang rusak mudah diperbaiki. Agar supir dari Build up Nepal tidak perlu bolak-balik dari kota ke desa dan sebaliknya, yang membuat seluruh proses perbaikan memakan waktu tidak kurang dari 3 hari. Jika mesin bisa diperbaiki di tempat, maka proses perbaikan mesin tidak akan memakan waktu lebih dari 1 jam.

Sebelum bercerita mengenai bagaimana kami menyelesaikan masalah mesin tersebut, saya ingin bercerita tentang tugas kami yang lain. Kami juga harus membuat workshop Build up Nepal menjadi lebih baik. Di workshop inilah mekanik yang bertugas memperbaiki dan memodifikasi mesin bekerja. Barang-barang mulai dari alat hingga suku cadang pun disimpan di workshop yang harus kami rapihkan dan perbaiki keadaannya.


Suasana di Depan Workshop Build up Nepal

Perbaikan pertama yang kami lakukan adalah dengan mendesain dan membuat semacam gerobak untuk mengangkut mesin CSEB. Mesin CSEB yang datang atau pergi dari workshop harus diangkut sejauh kurang lebih 10 meter sebelum mencapai mobil/ tempat pengangkutan. Dengan berat mesin yang 200 kilogram, tidaklah mudah mengangkut mesin dan membawanya sejauh 10 meter, walaupun dengan tenaga 3 orang dewasa.


Mesin yang harus diangkut. Beratnya kurang lebih 200 kilogram

Gerobak yang kami desain bentuknya sangat sedarhana. Hanya berupa platform yang disangga oleh roda yang bisa didorong maupun ditarik. Selain itu, cukup mudah untuk mengangkut mesin dari lantai ke gerobak karena platformnya didesain agar tidak terlalu tinggi. Pekerjaan kami dibantu oleh mekanik dari Build up Nepal bernama Kabi. Selain pintar dan sangat terampil dalam pengerjaan mesin, Kabi juga cukup mahir berbahasa Inggris. Kami menjadi akrab hanya setelah beberapa kali pertemuan saja.


Gambar gerobak pengangkut sederhana yang dibuat dengan bahan apa adanya

Gerobak kami bikin menggunakan pelat baja dan besi bekas yang ada di sana. Pengerjaan selesai dalam hitungan jam saja berkat keterampilan Kabi. Kami berhasil membuat gerobak tersebut dan mempermudah pengangkutan mesin CSEB dari workshop ke tempat parkir mobil.

Tugas berikutnya adalah membuat workshop lebih teratur. Ada banyak suku cadang dan alat-alat tukang di sana. Semuanya berantakan tergeletak di mana-mana di workshop. Hal ini membuat Kabi dan rekan-rekan mekaniknya terkadang kebingungan saat ingin mengerjakan sesuatu. Sejak pertengahan minggu ketiga saya dan Johan memulai merancang tempat meletakkan barang, barang yang dibutuhkan, hingga belanja barang-barang tersebut ke jantung kota Kathmandu, ditemani Aasish, seorang engineer yang juga bekerja bersama kami di desa Deurali.


Saya dan Aasish berdiskusi

Kami merancang meja las untuk Kabi bekerja saat ia perlu mengelas, membeli beberapa alat standar keselamatan seperti topeng las, dan membuat gantungan di dinding tempat menyimpan alat- alat agar tidak mudah hilang. Kami menggunakan triplek yang diberi paku, lalu menggantungkan alat-alat di paku tersebut. Papan triplek yang sudah ditempelkan di dinding tersebut lalu diberi cat sehingga saat seseorang mengambil barang, dia tahu ke mana harus mengembalikannya.


Meja Las

Tool board/ papan alat


Tool board setelah dicat

Akhirnya workshop Build up Nepal pun terlihat lebih baik dan lebih rapi. Para mekanik terlihat menikmati rapih dan teraturnya workshop. Mohon maaf karena saya tidak sempat mengambil foto sebelum workshopnya dipermak, jadi hanya ada foto setelah workshop diperbaiki saja.


Di cerita berikutnya, saya akan menceritakan tentang bagaimana kami memperbaiki masalah mesin dan kegiatan kami setelahnya. Tunggu ya!








Sunday, July 30, 2017

Earth Brick and Stone: Setengah Jalan

Ini adalah bagian keempat dari cerita tentang perjalanan saya bekerja membantu pembangunan di Nepal menjalankan projek dari Engineers Without Borders, Juli 2017 lalu
Bagian 1: klik di sini
Bagian 2: klik di sini
Bagian 3: klik di sini
Bagian 4: klik di sini
Bagian 5: klik di sini


2 minggu sudah berlalu sejak saya dan Johan mulai bekerja. Kami sudah setengah jalan menjalankan proyek volunteering membantu rehabilitasi daerah yang terkena gempa bumi 2015 lalu. Nepal selalu memberikan kejutan bagi kami. Budayanya sangat kaya, orang-orangnya ramah, dan makanannya memiliki rasa yang unik (mirip sama negara kita in its own way). Setiap hari seolah-olah adalah petualangan baru bagi kami.




Arsitektur Nepal yang Unik

Bekerja di Nepal memerlukan banyak penyesuaian. Bagi orang yang telah terbiasa dengan gaya hidup kota atau gaya hidup barat dengan segala produktivitas, efektivitas, dan ketepatan waktunya, yang dibutuhkan adalah banyak sabarnya. Orang-orang bekerja tanpa terorganisir, banyak orang bekerja menyelesaikan gejala dari masalah tapi tidak menyelesaikan akar masalahnya, dan tradisi ngaret alias telat sangatlah lumrah di sini. Dan dengan ngaret, maksud saya dalam skala jam-jaman.


Saat Pelatihan di Desa Deurali

Berkomunikasi dengan Enginner dari Build up Nepal

Language barrier juga jadi masalah di sini. Tidak banyak orang yang bisa bahasa inggris (apa lagi bahasa Indonesia)...kami pun tidak bisa berbahasa Nepal. Kami hanya tahu beberapa kata, seperti namaste, matu, dunga, dhal bat, dan pani (bahkan saya gak yakin kalau itu ditulis dengan benar). Dan seperti orang India, orang Nepal menggelengkan kepalanya sebagai "YA" (biasanya kan geleng-geleng kepala artinya tidak). Jadi sering juga komunikasi menjadi agak awkward karenanya.

Walaupun begitu, saya kagum kepada orang-orang Nepal. Mereka mirip dengan Indonesia, ada banyak agama di sana. Namun kerukunan beragama jauh lebih terasa daripada Indonesia. Mereka hidup di negara dengan infrastruktur yang sangat tidak memadai. Nepal bahkan tidak memiliki kereta api dalam negeri, sehingga transportasi orang dan logistik dilakukan dengan transportasi darat lain seperti truk dan bus. Masalahnya hampir semua jalanan di Nepal melewati bukit-bukit dan pegunungan. Hanya ada 1 jalan raya nasional yang menghubungkan Kathmandu dan distrik (provinsi) lainnya, yang lebarnya juga tidak seberapa dan batas kecepatannya sangat rendah. Kendaraan-kendaraan harus memutari gunung karena jika dibuat terowongan, resikonya terlalu besar karena ada ancaman gempa bumi. Perjalanan ke desa yang berjarak 30 kilometer saja perlu waktu lebih dari 4 jam menggunakan mobil.


                                                   Jalanan dari Kathmandu ke Deurali

Saat mobil tersangkut di lubang, kami harus menggali. Hal ini dilakukan paling tidak 3 kali sepanjang perjalanan ke Deurali

Karena banyak desa yang terletak di pegunungan, sulit untuk menjangkau mereka. Jalanan yang menghubungkan daerah ke daerah hampir semuanya tidak diaspal. Musim hujan memperburuk keadaan. Jalanan akan menjadi licin karena lumpur dan resiko longsor meningkat beberapa kali lipat. Hal inilah yang menyebabkan hingga sekarang, banyak desa yang belum sepenuhnya dibangun kembali sejak 2015. Karena sulit untuk mengantarkan bahan bangunan, banyak orang hidup di gubuk sementara bahkan hingga sekarang.


Kondisi tempat tinggal sementara di Deurali

Beberapa tempat di daerah perkotaan juga belum selesai dibangun kembali

Build up Nepal (BuN), perusahaan non-profit tempat kami bekerja, mendedikasikan diri mereka untuk membangun desa-desa yang terserang gempa bumi bersama dengan banyak organisasi non-profit lainnya. Karena tidak mudah mengantarkan bahan bangunan seperti semen, pasir, dan bata dalam jumlah banyak ke desa-desa, mereka memutuskan untuk menggunakan material lokal. Berkolaborasi dengan pengusaha lokal di desa, BuN menyediakan mesin press untuk memproduksi CSEB (bata tanah terkompresi) dan pelatihan bagaimana membuatnya serta mambangun bangunan darinya. CSEB (bata tanah) adalah pilihan yang baik karena dapat digunakan menggunakan bahan lokal (tanag dan pasir, dengan sedikit tambahan semen) dan tidak perlu dibakar layaknya bata pada umumnya (yang mengkonsumsi sangat banyak energi dan membuat polusi). Setelah kami mengadakan pelatihan, semua bergantung pada pengusaha dan penduduk desa untuk mengatur produksi dan proses pembangunan di desa. Dengan begini, produksi bata tanah juga menciptakan lapangan pekerjaan.


Tanah lokal

Tenaga kerja lokal

Menghasilkan bahan bangunan ramah lingkungan

Setelah kembali dari desa Deurali dan melihat langsung pentingnya penyediaan mesin tekan bata, kami harus bekerja mencari solusi dari masalah yang substansial. BuN telah memasang mesin CSEB di puluhan desa. Beberapa sudah menjalankan proses pembangunan selama 1 tahun dengan produksi ribuan batu bata. Di sinilah masalah pada mesin mulai terjadi. Mesin mulai kehilangan kekuatannya dalam memberi tekanan setelah beberapa bulan digunakan. Alasannya adalah karena bagian yang terkena gaya terbesar pada mesin tidak dibuat menggunakan material yang cukup kuat, sehingga bagian tersebut rusak. Terlebih lagi, mesin tidak didesain untuk mengganti bagian tersebut dengan mudah dan bagian tersebut tidaklah mudah dilihat untuk diperiksa. Penggantian bagian tersebut perlu dilakukan di bengkel BuN.

Nah, ini masalah besarnya. Saat mesin rusak, mesin perlu dibawa ke bengkel BuN di Kathmandu. Namun, seperti sudah kubilang, sistem transportasi di Nepal sangat memusingkan. Jadi, mengirim supir untuk pergi ke desa, mengambil mesin, dan membawanya kembali ke BuN butuh 2 hari 1 malam. Membetulkan mesinnya sendiri tidak masalah. Mungkin hanya butuh 30-60 menit. Tapi mesinnya harus dibawa lagi ke desa...sehingga totalnya sekitar 3 hari terbuang hanya untuk memperbaiki mesin yang bisa dilakukan selama 1 jam. Ada 30 mesin di seluruh Nepal yang diprediksi akan segera mengalami masalah ini. Jadi, kami merumuskan solusi jangka panjang untuk masalah ini. Kami mendesain ulang mesin CSEB. Capaiannya adalah, saat masalah terjadi, pegawai BuN di lapangan bisa dengan mudah mengganti bagian rusak tadi hanya dengan alat-alat terbatas yang ada di desa.

Foto Bersama Simon, pengusaha dari Deurali

Kami hanya memiliki 2 minggu untuk menyelesaikan semua. Kami juga harus merapihkan bengkel BuN. Bengkel BuN tidak memiliki ventilasi, alat-alat keselamatan standar, dan beberapa kebutuhan dasar seperti masker dan P3K.


The workshop of Build up Nepal

Tunggu kelanjutannya ya!


Monday, July 24, 2017

Earth Brick and Stone: Deurali


Ini adalah bagian ketiga dari cerita tentang perjalanan saya bekerja membantu pembangunan di Nepal menjalankan projek dari Engineers Without Borders, Juli 2017 lalu
Bagian 1: klik di sini
Bagian 2: klik di sini
Bagian 3: klik di sini
Bagian 4: klik di sini
Bagian 5: klik di sini

Akhir pekan pertama di Nepal, saya, Johan, dan tim dari Build up Nepal pergi ke sebuah desa bernama Deurali yang terletak di distrik Nuwakot, zona (semacam provinsi) Bagmati. Desa Deurali terletak sekitar 1500 meter di atas permukaan laut. Di ketinggian tersebut, temperaturnya tidak sedingin yang dikira. Misi kami: memberikan pelatihan dan membantu pemasangan mesin tekan earth brick (CSEB). Seperti banyak desa lainnya, Deurali terkena gempa di 2015 dan mengalami kerusakan berat. 150 dari 178 bangunan yang ada di sana rata dengan tanah dan peristiwa tersebut memakan 13 korban jiwa.


          Hamparan sawah di Deurali, mirip dengan Indonesia

Deurali sebenarnya tidaklah jauh dari Kathmandu. Namun butuh hampir seharian bagi kami untuk mencapainya dengan mobil. Alasannya: jalanan di Nepal tidak terlalu bagus dan pada saat itu sedang musim hujan. Banyak sekali lubang dan batu besar yang melengkapi jalanan antar kota. Kalau di bahasa inggris it was a very bumpy ride. Dilengkapi dengan tingginya curah hujan, jalanan jadi berlumpur, membuat mobil yang kami kendarai beberapa kali tersangkut di lumpur. Hal yang serupa terjadi juga pada puluhan truk dan bus yang kami jumpai sejalan perjalanan


Ini adalah pemandangan umum di jalanan antar-kota di Nepal

Suasana jalanan di lebih dari setengah waktu perjalanan kami

Di Deurali, ada seorang pengusaha lokal bernama Simon. Dialah yang akan kami tolong dalam memasang mesin CSEB. Ayah berusia 28 tahun ini berharap dapat menciptakan lapangan pekerjaan pagi penduduk desa, sekaligus membangun kembali desanya. Simon memiliki lahan yang cukup luas yang ia gunakan untuk bertani palawija dan beternak ayam, kambing, dan sapi. Simon bercerita ke saya bahwa dia baru tahu info tentang Build up Nepal belum lama. Saat gempa bumi melanda, banyak hewan ternaknya mati dan rumahnya hancur total. Sekarang, ia dan istrinya tinggal di gubuk yang ia bangun dari kayu dan batu.

Kami harus membawa mesin seberat 200 kilogram dari Kathmandu ke Deurali. Kami khawatir jalan yang rusak dapat membuat mesin oleng sehingga jatuh atau terbentur dan rusak. Untungnya, supir Build up Nepal, Jayram memiliki skill tingkat super dalam berkendara. Dia disebut-sebut punya pengalaman hampir 50 tahun mengemudikan mobil. Dia bisa menghindari hampir semua lubang yang ada di jalan namun membuat perjalanan terasa nyaman bagi kami penumpang. Respect Sir!

Kami tiba di Deurali Jumat sore. Tidak banyak waktu sebelum hari mulai gelap. Kami langsung memasang mesin CSEB, lalu berkoordinasi dengan Simon untuk memanggil penduduk desa besok pagi, untuk mengadakan pelatihan penggunaan mesin CSEB. Udara di sini jauh lebih segar daripada Kathmandu karena tidak ada polusi.

Besoknya, pekerjaan dimulai sangat terlambat, karena kami baru menyadari bahwa penduduk desa pergi bertani atau ke kota untuk mencari nafkah di pagi hari. Pelatihan baru bisa dimulai setelah lewat jam makan siang. Kami langsung mulai dengan memperkenalkan diri (walaupun sebelumnya Simon telah memberi tahu tentang kedatangan kami). Setelah perkenalan, kami langsung menunjukkan bagaimana cara memakai mesin, membuat campuran bata, dan beberapa perawatan yang harus dilakukan untuk mesin.



Pemasangan mesin

Setelah beberapa jam, para penduduk desa sudah bisa membuat bata mereka sendiri. Rasanya sangatlah memuaskan bisa melihat orang-orang dengan wajah gembira penuh harapan dapat membangun desa mereka setelah kejadian besar 2 tahun lalu. Tidak aneh sih, mengingat mereka tinggal di gubuk atau rumah yang tidak permanen sejak gempa bumi melanda.

                                                 Orang-orang mulai bekerja membuat bata

Pelatihan berlangsung selama 2 hari. Hari pertama petunjuk bagaimana menyiapkan dan membuat bata. Hari kedua fokus pada pengenalan masalah yang sering terjadi di mesin dan penanggulangannya. Masalah yang sering terjadi di mesin, terjadi di hari kedua. Adonan bata tidak bisa diangkat dari mesin setelah proses pemberian tekanan dilakukan. Penyebabnya adalah ada bagian mesin yang miring namun tidak mudah dilihat. Setelah memperlihatkan cara memperbaiki masalah tersebut, kami juga menekankan akan pentingnya pemberian pelumas dan pembersihan mesin secara berkala. Mereka mendengarkan dengan penuh fokus.



 Bahkan anak-anak ikut senang


Overall, ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Saya merasa senang melihat wajah penduduk desa yang penuh harapan. Semua nyeri punggung karena perjalanan berjam-jam dangan jalan yang tidak mulus terasa hilang begitu saja. 

Monday, July 17, 2017

Earth, Brick and Stone. Bagian 2: First Days in Nepal

Ini adalah bagian kedua dari cerita tentang perjalanan saya bekerja membantu pembangunan di Nepal menjalankan projek dari Engineers Without Borders, Juli 2017 lalu

Bagian 1: klik di sini
Bagian 2: klik di sini
Bagian 3: klik di sini
Bagian 4: klik di sini
Bagian 5: klik di sini





Hari kedua setelah kedatangan kami ke Nepal baru saja terlewati. Setelah melalui 15 jam perjalanan dan antrian visa yang panjang, kami tiba di Patan, daerah yang akan kami tinggali yang terletak di lembah Kathmandu. Sepintas, kondisi perkotaan Nepal mirip dengan kota-kota sedang di Indonesia. Iklimnya cukup hangat untuk membuat berkeringat di siang hari, dan makanannya cukup pedas namun tidak sepedas makanan Indonesia pada umumnya.


Paket nasi, sayuran, kacang lentil, dan sambal (Dal Bhat) dan lassie (semacam yoghurt) sebagai minuman.


Setelah beristirahat semalam, saya dan Johan menuju kantor Build up Nepal, yang terletak sekitar 500 meter dari hotel. Kami bertemu direktur Build up Nepal, Björn Söderberg. Dia memberikan beberapa informasi mengenai BuN. Didirikan belum sampai 2 tahun lalu sebagai usaha rehabilitasi dan perbaikan pasca gempa bumi Gorkha di 2015. Walau Björn adalah orang Swedia, ternyata dia telah tinggal di Nepal selama 16 tahun! BuN sampai saat ini telah membantu pembangunan dan rehabilitasi di 50 tempat berbeda. Saya rasa waktu 1 bulan tidak akan cukup bagi saya untuk menuju semua tempat tersebut. Setelah melihat kantor BuN dan workshop-nya, kami berdiskusi mengenai masalah-masalah yang sering dihadapi dan bagaimana kami akan mengatasinya.

Metode utama yang dilakukan BuN dalam membantu pembangunan adalah dengan mengirimkan mesin kompresi CSEB ke desa terpencil, lalu melatih warga lokal bagaimana membangun rumah menggunakan CSEB. Biasanya tim BuN menghabiskan 3-7 hari di desa untuk mengantar, memasang, dan mengajari penduduk desa bagaimana memakai mesin CSEB.

Björn dan karyawan BuN menunjukkan ke kami bagaimana caranya membuat CSEB. Berikut prosesnya:

1. Tes tanah
Hal ini dilakukan untuk menentukan jumlah lempung (clay) di tanah yang akan digunakan, karena setiap daerah biasanya memiliki kandungan lempung yang berbeda. Idealnya, adonan untuk membuat CSEB mengandung 60% pasir, 10% semen, dan 30% lempung. Masalah yang dialami adalah kurangnya alat yang memadai untuk melakukan tes tersebut. Namun, tim BuN telah lama menggunakan tes sederhana yang cukup akurat untuk memperikrakan kandungan tanah.

Sebongkah tanah diambil dan ditempatkan di wadah transparan, ketinggiannya diukur. Lalu, air ditambahkan ke wadah tersebut. Batuan dan pasir akan mengendap sementara lempung akan larut dalam air. Air (dengan lempung) dibuang. Proses ini diulang berulang kali hingga air di wadah menjadi transparan, menandakan ketiadaan lempung di tanah sampel tanah. Dari situ kandungan pasir bisa diketahui dari tinggi sisa sampel tanah yang ada, dan kandungan lempung dengan mengukur ketinggian sampel tanah yang terbuang. Dari situ, tinggal ditambahkan pasir atau lempung dan semen sesuai kebutuhan.

Tes tanah


Pengalaman lucu yang saya alami: karyawan BuN berdebat mengenai tes tersebut saat menunjukannya kepada kami. Yang satu adalah karyawan senior di BuN, satu lagi adalah seorang fresh graduate yang hari itu adalah hari pertamanya bekerja

2. Pencampuran
Setelah jumlah pasir, tanah, dan semen yang diperlukan diketahui, semua dicampur dan diaduk. Proses pencampuran dilakukan dengan cara mengaduk semua bahan dengan tangan sambil sedikit demi sedikit menambah air. Seharusnya pencampuran menggunakan alat seperti mixer elektrik. Namun kebanyakan desa tidak memiliki akses ke daya listrik yang besar, sehingga digunakanlah tenaga manusia. Selama proses pencampuran, harus dipastikan bahwa tidak ada semen atau lempung yang membentuk gumpalan.

Proses pencampuran


3. Melakukan kompresi
Adonan dimasukkan ke cetakan yang ada di mesin Setelah beberapa pengaturan, tuas yang ada di mesin ditarik, menyebabkan adonan terkompresi dengan tekanan tinggi...dan jadilah: CSEB!

Compressed Stabilised Earth Brick, fresh from the machine!

CSEB harus diperlakukan dengan hati-hati, karena CSEB yang asih "basah" sangat rapuh. Baru setelah beberapa hari, CSEB akan mengeras dan mencapai kekuatan optimal di hari ke 21.


         CSEB disusun di tempat yang sejuk dan dijaga kelembabannya hingga hari ke 21


Lalu, Björn membawa kami ke workshop BuN dan menjelaskan beberapa masalah dan hal-hal yang perlu diperbaiki. Di 50 desa yang mereka layani, paling tidak ada 1 mesin CSEB. BuN memiliki 1 mekanik utama bernama Kabi. Kabi memiliki keahlian yang bukan main di bidang mekanik. Dia sangat lihai dalam memperbaiki mesin. Masalahnya, workshop yang ada di BuN saat ini berantakan dan kekurangan beberapa alat penting seperti meja las. Jadi, tugas pertama kami adalah berdiskusi dengan Kabi untuk merancang workshop yang efisien dan nyaman bagi Kabi.

Masalah utama lainnya: engineer yang bekerja di lapangan kebanyakan adalah civil engineer. Mereka tahu betul tentang konstruksi dan bangunan, namun hampir tidak tahu apa-apa mengenai mesin. Saat ada masalah dengan mesin CSEB, walaupun masalahnya kecil, mereka tidak bisa dan tidak berani melakukan apa-apa. Mereka biasanya memanggil teknisi dari kantor pusat BuN untuk datang ke lapangan dan memperbaikinya. Namun, dibutuhkan 12 jam dari kantor BuN di Patan untuk mencapai 1 desa, dan hanya sekitar 15 menit untuk memperbaiki mesinnya! Jadi 1 masalah di mesin memakan waktu paling tidak 2 hari bolak-balik untuk diperbaiki. Jadi, kami berencana membuat semacam daftar masalah-masalah yang sering terjadi beserta penyelesaiannya sehingga orang di lapangan bisa memperbaiki mesin tanpa harus memanggil orang dari BuN. Langkah pertama adalah dengan melakukan diskusi dengan engineer di lapangan dan di kantor pusat BuN.

Menjelaskan masalah umum di mesin CSEB



Friday, July 14, 2017

Earth, Brick and Stone. Bagian 1 : Pembukaan

Ini adalah cerita tentang perjalanan saya bekerja membantu pembangunan di Nepal menjalankan projek dari Engineers Without Borders, Juli 2017 lalu
Bagian 1: klik di sini
Bagian 2: klik di sini
Bagian 3: klik di sini
Bagian 4: klik di sini
Bagian 5: klik di sini

Puncak Everest (diambil dari Tripsavvy.com)

Gempa Bumi Gorkha dan Rehabilitasinya

Sekitar 2 tahun yang lalu, Nepal dilanda bencana gempa bumi. Gempa yang dikenal dengan Gorkha Earthquake ini menyebabkan longsor besar di pegunungan Himalaya, memakan hampir 9000 korban jiwa, melukai hampir 22000 orang dan membuat ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Banyak desa rata dengan tanah. Hingga kini orang-orang di sana masih kesusahan untuk membangun kembali rumah mereka Telah banyak pihak ikut serta dalam pemulihan dan rehabilitasi pasca gempa. Salah satunya adalah Build-up Nepal, sebuah organisasi non-profit yang memfasilitasi saya untuk bekerja di sana selama 1 bulan.

Banyak masalah yang harus dihadapi terkait rehabilitasi pasca gempa di Nepal. Salah satunya adalah tidak mudah untuk mengirimkan bahan bangunan dari satu daerah ke daerah lainnya. Banyak desa terletak di daerah terpencil yang sulit untuk dijangkau. Banyak desa yang jaraknya kurang dari 30 kilometer dari kota, namun untuk menuju sana perlu waktu paling tidak 2 jam dengan mobil, ditambah tempat tersebut terletak di daerah tinggi dengan jalanan yang sulit dilalui oleh mobil biasa atau dengan supir yang tidak berpengalaman. Tidak heran kalau memang diperlukan waktu lama untuk rehabilitasi dan membangun kembali area yang rusak di Nepal.


Build up Nepal dan Engineers Without Borders Swedia

Build-up Nepal (BuN) mencoba membantu meringankan masalah kesulitan akses di desa-desa terpencil dengan pendekatan yang lebih mudah dan lebih murah. Alih-alih mengirimkan bahan bangunan seperti batu bata yang sangat banyak dibutuhkan untuk membangun rumah, BuN memutuskan untuk membantu membuat CSEB. Apa itu CSEB?

CSEB adalah singkatan dari Compressed Stabilized Earth Brick, atau di bahasa Indonesia, bata tanah terkompresi dan terstabilisasi. CSEB adalah bata yang dibuat dari tanah (soil), pasir (sand) yang diikat oleh semen, ditekan dengan gaya yang tinggi, lalu dibiarkan agar menjadi stabil dan mengeras. Dengan CSEB, pengiriman bahan bangunan dari kota dapat diminimalisir karena pembuatan CSEB menggunakan tanah dan pasir lokal. Memang masih memerlukan semen, namun proporsinya tidak banyak. Untuk membuat 1 buah CSEB, dibutuhkan kurang dari 100 gram semen. Dengan begini, pengiriman barang ke daerah-daerah terpencil menjadi lebih mudah dan pembangunan kembali dapat berjalan dengan lancar.

BuN bekerja sama dengan banyak pihak dalam usahanya membangun kembali Nepal. Salah satunya adalah dengan Ingenjörer utan gränser (IUG), sebuah lembaga di Swedia yang merupakan cabang dari Engineers Without Borders. Apa itu Engineers Without Borders (EWB)? EWB adalah organisasi internasional yang mengirim engineer atau mahasiswa engineer dari negara-negara maju untuk melakukan volunteering ke negara-negara yang mengalami kesulitan di bidang teknologi. Sebagai kompensasi, para relawan mendapat transportasi dan akomodasi gratis, dan kesempatan menyelesaikan skripsi/thesisnya bagi para pelajar.

BuN dan IUG telah melakukan banyak proyek riset mengenai kekuatan struktural bangunan dan tentang bangunan tahan gempa. IUG telah memfasilitasi dan mengirim banyak pelajar ke Nepal untuk membantu riset BuN sambil menyelesaikan tugas akhir mereka. Kali ini, IUG mengirim saya (pada saat itu posisi saya masih sebagai pelajar, namun bukan untuk menyelesaikan tugas akhir) dan kolega saya, Johan, seorang engineer profesional ke Nepal untuk menyelesaikan sebuah projek berjudul "Earth Brick and Stone". Terdengar keren ya?

Projek ini bertujuan menyelesaikan beberapa masalah terkait pembangunan rumah di area terpencil. Apa masalah yang akan kami pecahkan? Berdasarkan pimpinan BuN, Björn, masalah utama adalah tidak memungkinkannya membuat CSEB di daerah tinggi. Di daerah dengan ketinggian lebih dari 3000 meter di atas permukaan laut, semen yang telah diberi air sangat sulit mengeras, sehingga batu bata tidak akan mengeras. Banyak juga masalah lainnya seperti: komunikasi antar pekerja dan pihak BuN, bagaimana memecahkan masalah pada mesin CSEB, dan beberapa masalah di workshop di kantor pusat BuN yang terletak di Kathmandu.

Ilustrasi mesin kompresi CSEB (gambar diambil dari Buildupnepal.com)

My Thought on This Project

Sejujurnya, proyek ini tidak terlalu nyambung dengan yang saya pelajari. Saya kan belajar material engineering. Mamang sih kalau dipaksakan, bahan bangunan seperti batu dan bata kan "material" juga. Saya tahu sedikit-banyak tentang bahan bangunan, mulai dari kekuatan sampai proses kimia di baliknya. Bekerja di Nepal selama 4 minggu adalah pengalaman yang sangat berharga. Saya mendapat kesempatan mengekspresikan rasa syukur telah dapat banyak privilege berupa akses ke berbagai fasilitas hidup dan ilmu pengetahuan (yang seringnya saya malas atau salah gunakan). Saya juga telah menjalani kehidupan yang baik dan cenderung manja selama 24 tahun terakhir. Saya ingin turun ke bawah sana, bekerja keras, dan berempati pada mereka, para korban gempa Gorkha.

Lalu, saya gak mau bohong kalau pekerjaan volunteering ini dilakukan tanpa ada ingin dapat keuntungan. Saya juga ingin CV saya jadi lebih bagus. Maklum, zaman sekarang milenial susah cari kerja. Tapi yang lebih penting dari itu adalah belajar. Belajar bagaimana bekerja benar-benar bekerja, berkoordinasi dengan orang di lapangan, dan berinteraksi dengan orang yang latar belakangnya berbeda jauh dengan saya.

Monday, April 24, 2017

Precious Lessons in April

Di atas langit masih ada langit. Itulah peribahasa yang harus terus kita hayati. Terkadang mendapat sedikit karunia, baik itu kemenangan, posisi, atau hadiah berupa material, membuat orang merasa lebih daripada yang lainnya. Padahal kemenangan, sejatinya hanyalah sementara karena hidup ini adalah perjuangan yang tanpa henti. Pun jikalau kita adalah orang yang hebat dan memiliki kemenangan, dunia ini bukanlah selebar daun kelor. Banyak orang yang lebih hebat di luar sana. Mereka semua punya cerita dan banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Dan pelajaran terbesar adalah saat kita merasakan kekalahan. Entah mengapa kita akan langsung menyadari apa saja yang kurang dalam diri kita saat kita terkalahkan dalam suatu kompetisi...yang sebenarnya juga kita sadari saat biasa-biasa saja tapi kita cenderung mengabaikannya.

Saya mau menceritakan pengalaman saya dan apa saja yang saya pelajari dari rangkaian acara yang saya ikuti baru-baru ini, dan membagikan sedikit tentang apa yang saya pelajari, mungkin kita bisa berdiskusi lebih jauh untuk mendapat pencerahan lebih jauh. Akhir Maret lalu, saya dan teman-teman saya mengikuti kompetisi bernama EBEC 2017 yang merupakan singkatan dari European BEST Engineering Competition atau Kompetisi Engineering BEST (= terbaik/ nama organisasi penyelenggaranya) se-Eropa. Kompetisi ini terdiri dari babak lokal, babak regional, dan babak final. Babak lokal diselenggarakan di Chalmers, di mana kami berkompetisi memecahkan masalah teknis dengan tema Industry 4.0 (tentang mengintegrasikan industri dengan komputer dan otomasi). Pemenang dari babak lokal akan dikirim ke babak regional se-Nordik (Nordik adalah daerah di eropa yang terdiri dari Swedia, Denmark, Norwegia, dan Finlandia).



SIngkat cerita, kami memenangkan kompetisi EBEC tingkat lokal ini. Kombinasi antara pengetahuan di bidang produksi, delegasi tugas yang pas, presentasi yang energik, ditambah semangat memenangkan lomba membuat kami menang. Saya merasa bangga saat itu. Saya merasa saya (dan tim saya) cukup baik untuk menyelesaikan masalah di bidang engineering. Jujur, ada sedikit bibit kesombongan dalam hati saya. Ini bukanlah hal yang baik, dan merupakan kebiasaan buruk saya yang sampai sekarang masih saya coba untuk hentikan. Tapi paling tidak saya berhasil untuk “tidak terlalu pamer” karena saya cukup sadar bahwa kesombongan bakal membawa petaka nantinya.
Sekitar 3 minggu setelah kemenangan itu, kami pergi ke Lund untuk berkompetisi di babak regional. Singkat cerita, kami tidak memenangkan babak ini sehingga kami tidak bisa ikut babak final bulan Agustus nanti. Tapi di sini saya mau membagikan pelajaran apa saja yang saya dapat dari kekalahan kemarin.

Kompetisi EBEC tingkat regional Nordik kali ini bertema tentang bagaimana mengembagkan teknologi untuk membantu orang dengan disabilitas. Dan definisi dari “disabilitas” di sini cukup luas. Dulu saya berpikir bahwa disabilitas berarti orang yang cacat fisik seperti pincang atau lumpuh. Namun, ada juga disabilitas yang dinamakan disabilitas kognitif, yaitu orang yang memiliki kelemahan dalam berpikir. Bukan berarti orang itu bodoh, namun bisa jadi karena ada masalah di otaknya. Contohnya paling sederhana adalah veteran perang yang kepalanya terbentur cukup keras hingga sekarang jadi sangat mudah lupa. Contoh lainnya adalah orang yang menderita alzheimer sehingga kesulitan untuk melakukan hal-hal yang sederhana. Maka tugas kita kaum terpelajar dan tidak punya disabilitaslah untuk membantu mereka menjalani hidupnya secara normal. Bukankah tugas yang kuat itu menolong yang lemah?

Studi kasus yang menjadi bahan kompetisi kali ini adalah mengenai seorang tokoh fiktif bernama Henrik yang mengalami kesulitan dalam membaca, tidak punya sense of measurement (dia tidak bisa membedakan mana “terlalu banyak” mana “terlalu sedikit”), sangat mudah frustrasi saat menghadapi tekanan, dan beberapa masalah kognitif lainnya yang membuat dia tidak bisa menjalani kehidupan layaknya manusia biasa. Tugas seluruh peserta adalah merancang pertolongan apa yang dapat kita manfaatkan untuk membuat dia dapat bepergian ke luar negeri dengan menggunakan berbagai sumber transportasi.

Kesan pertama saya adalah: WOW ini sesuatu yang baru! Karena setahu saya di Indonesia, orang dengan disabilitas biasanya ditemani oleh perawat, baik itu perawat professional, teman, atau keluarga (hampir) ke manapun mereka bepergian. Tapi nampaknya di benua biru ini, selain ingin membantu, orang-orang juga menjunjung tinggi nilai “Independent” atau sedapat mungkin tidak membuat si penyandang disabilitas terlalu bergantung pada orang. Salah satu nilai tambah dari hal ini adalah membuat si penyandang disabilitas tidak merasa diri mereka menyedihkan, dan membuat paradigma positif bahwa seburuk-buruknya disabilitas yang mereka alami, mereka tetap manusia dewasa yang bisa mengurus diri mereka sendiri.

Singkat cerita, kami diberi waktu sehari-semalam (dipotong waktu istirahat, makan, dan bersosialisasi) untuk berdiskusi dan memberikan presentasi di hadapan para juri yang nanti akan menilai penampilan para peserta. Kesalahan pertama saya adalah saya masih agak merasa “gampang lah bisa menang nih”. Saya dan tim saya banyak menghasilkan ide-ide gila dan original, tapi saya merasakan bahwa komunikasi kami sebagai tim kurang intens dibandingkan dengan saat babak lokal kemarin. Sehingga walaupun banyak ide yang bagus dan cukup bisa diimplementasikan, kami tidak bisa fokus ke ide mana yang harus diutamakan. Kami ingin menampilkan semua ide-ide kami, akibatnya, saat presentasi, tiap ide hanya dibahas permukaannya tanpa membahas lebih dalam esensi dari ide-ide tersebut.

Kesalahan kedua saya (dan tim saya) adalah kurang menunjukkan empati pada tokoh Henrik ini. Saya merasa seharusnya kami membahas apa saja yang diderita Henrik, apa implikasi tiap-tiap kekurangannya pada tiap bagian di perjalanannya, dan apa yang bisa dilakukan untuk meringankan penderitaannya, namun tetap membuatnya cukup mandiri sebagai manusia dewasa. Namun, kesalahan terbesar saya adalah saat saya mencoba bekerja sendiri saat yang lain sedang beristirahat di malam hari. Saat itu jam 2 pagi, semua anggota tim dan peserta kompetisi lain sedang beristirahat. Saya memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan sendiri agar esoknya kami bisa punya waktu lebih untuk mempersiapkan isi presentasi dan bersiap-siap untuk menampilkan presentasinya. Biasanya, di hidup saya ini adalah foolproof strategy. Karena memberikan effort ekstra saat yang lain sedang bersenang-senang atau nyenyak dalam tidur mereka adalah cara para juara mempersiapkan kompetisi mereka...paling tidak itulah yang sering ditunjukkan di film-film penuh motivasi seperti Rocky, Karate Kid, atau kisah kemenangan atlit-atlit kelas dunia. Begitu pula pada diri saya, banyak kesuksesan yang saya raih salah satu faktornya adalah saya bersedia bekerja lebih keras saat yang lain sedang berpesta, tidur, atau berlibur. Dengan sedikit pembenaran: biar gak telat subuh, jadi tidur habis subuh aja, saya meneruskan pekerjaan saya semalam suntuk.

Nampaknya, strategi “pintar” saya tidak bisa dilakukan di semua aspek kehidupan dan asal dipakai seenaknya. Saya tidak menyadari bahwa saya sudah sangat lelah karena acara EBEC ini terdiri dari banyak aktivitas. Saya bisa tetap bangun dan bekerja karena saya menenggak beberapa gelas kopi, namun itu tidak membuat otak saya bekerja se-optimal biasanya. Selain itu, hal ini membuat saya tidak bisa berkomunikasi dengan anggota tim lainnya. Sehingga esoknya, malah banyak yang harus disesuaikan dan cukup banyak waktu terbuang karenanya. Sebagai pelengkap, saya hanya tidur sekitar 4 jam, ditambah akumulasi kelelahan akibat semua rangkaian aktivitas rangkaian acara EBEC, ditambah sebelum berangkat ke EBEC saya masih begadang demi thesis saya. Jadi pada saat presentasi, saya akui saya tidak dalam kondisi se-prima saat di babak kompetisi lokal. Teman-teman tim saya melakukan presentasi dengan sangat baik, namun saya tidak. Omongan saya terlalu cepat, bahasa Inggris saya gagu, sehingga poin-poin yang mau disampaikan ke juri kurang mengena. Padahal bagian presentasi saya adalah inti dari solusi yang kami ajukan untuk masalah si Henrik.

Sebelum melanjutkan cerita tentang kompetisi, saya juga ingin menceritakan bagian lain dari rangkaian aktivitas di EBEC ini. Ada 3 orang yang berperan sebagai juri. 2 orang merupakan professor di Universitas Lund yang bergerak di bidang desain untuk menolong orang dengan disabilitas. Sebagai orang Indonesia, ini hal yang benar-benar baru. 1 orang lagi adalah perwakilan dari asosiasi engineer di Swedia. Mereka memberikan kuliah umum tentang bagaimana mendesain sesuatu atau fasilitas yang bisa membantu orang-orang dengan disabilitas sedekat mungkin dengan menjalani hidup normal. Saya mendapat gambaran betapa butuh perencanaan yang teliti dan betapa butuh kesabaran dan empati dalam merancang hal-hal seperti ini. Pelajaran yang saya ambil di sini: kalau mau menolong orang, kita harus pintar!

Kuliah umum tentang desain untuk penyandang disabilitas


Akhirnya tibalah saat semua tim mempresentasikan hasil studi kasus mereka. Hampir semua tim menggunakan strategi untuk mendesain suatu aplikasi pada gadget untuk membantu si Henrik dalam perjalanannya. Yang membuat saya terkesima adalah semua tim bisa memunculkan ide-ide yang out of the box dalam waktu singkat. Lalu tingkat empati yang mereka berikan pada karakter Henrik ini luar biasa. Mereka bisa membandingkan dan memberi gambaran kesulitan apa saja yang akan dialami oleh penyandang disabilitas dalam aktivitas sehari-hari. Walaupun itu hanya sesederhana bepergian. Ditambah dengan penyampaian presentasi yang sangat menarik dan bahasa Inggris yang enak didengar, membuat saya merasa malu pernah merasa sombong. Lagi-lagi peribahasa masih ada langit di atas langit kembali menunjukkan kebenarannya.

Kegagalan merebut posisi pemenang di babak Nordik bukanlah yang pertama kalinya saya merasakan pahitnya kekalahan. Namun, dibalik itu adalah kesadaran bahwa kegagalan adalah guru yang baik. Dari sini saya lebih menyadari apa saja yang kurang dari diri saya dan apa saja yang bisa saya latih dan perbaiki lagi. Dan sebagai orang yang terdidik untuk melihat hikmah di balik semuanya, saya bisa berpikir positif bahwa jika kami menang, maka kami harus beraksi di babak final bulan Agustus nanti. Pada bulan Agustus kemungkinan besar akan berada di Nepal (akan dibahas di post berikutnya ya!), jadi mari anggap saja ini kehendak Tuhan agar saya bisa fokus ke hal lain dan sebuah pecut untuk menjadi orang yang lebih baik.

Sekarang tinggal bagaimana caranya agar semua pelajaran yang saya dapat beberapa hari yang lalu bisa terpatri di hati.
Semoga menginspirasi!

Earth Brick and Stone: Workshop Frenzy