Wednesday, November 9, 2016

Materials for Tomorrow 2016: Mengintip Masa Depan dengan Kemajuan di Bidang Material

“Materials for Tomorrow” adalah event tahunan yang diadakan di Chalmers di mana ilmuwan, researcher, dan pihak dari industri memberikan pandangan terhadap tantangan dan potensi di bidang ilmu dan teknik material. Tahun ini, acara diselenggarakan dari hari Selasa 8 November hingga Kamis 10 November. Sebagai mahasiswa jurusan teknik material, kesempatan ini tidak saya lewatkan dong!


Dari sekian banyak sesi yang ada, salah satu yang saya datangi adalah sesi tentang 3D printing, atau Additive Manufacturing. 3D printing memang merupakan teknologi yang lagi trending belakangan ini. Banyak blogger dan youtuber membagikan pengalaman mereka membuat barang dengan teknologi ini. Bahkan, banyak perusahaan didirikan dengan basis 3D printing. Sebenarnya, 3D printing bukanlah teknologi yang baru loh. 3D printing sudah ada sejak 28 tahun yang lalu!

Kegunaan yang paling “fancy” untuk 3D printing adalah untuk keperluan medis. Dengan 3D printing, kita bisa membuat implant untuk pinggul, lutut (atau sendi yang ada di lutut, lupa namanya apa). Dan yang paling keren adalah cranium framework, yaitu menambal tulang yengkorak yang bocor/retak (dengan asumsi si pasien masih hidup ya). Penggunaan teknologi seperti ini telah menolong ribuan, atau jutaan pasien di seluruh dunia.


                                                      (The Lecture about 3D printing)

“State of the art” lainnya tentang material adalah tentang biopolimer kayu. Sang pembicara kebetulan adalah pengajar di salah satu kuliah yang saya ambil semester lalu. Berkolaborasi dengan Wallenberg Wood Science Center, sang pembicara memaparkan potensi dari produk-produk hutan. Ternyata kayu dari hutan tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk furnitur, bahan konstruksi, atau kertas, tapi kita juga bisa melakukan ekstraksi nanocellulose...sebuah material yang bisa dimanfaatkan untuk aplikasi 3D printing. Aplikasi dari teknologi ini di antaranya “smart” packaging (ini juga saya gak ngerti apa) dan keperluan medis seperti 3D printing jaringan (jaringan dalam arti biologis), sehingga di masa depan bukan tidak mungkin kita bisa melakukan 3D printing bagian tubuh yang luka/cacat karena kecelakaan misalnya. Ditambah lagi, 70% area di Swedia adalah hutan. Digabungkan dengan pengelolaan yang benar dan regulasi yang ketat, mereka bisa menjual “produk” dengan harga tinggi namun juga sustainable...Bayangkan Indonesia kayak gitu ya...

Sesi berikutnya di sore hari adalah presrntasi poster dari peneliti dan ilmuwan dari berbagai penjuru dunia. Semua hasil riset dan penemuannya luar biasa (walau belum sekeren film superhero atau sci-fi siih). Mulai dari kertas anti basah, progres tentang graphene (salah satu material trending), konversi metana ke metanol (mengurangi dampak global warming yeaay!), dan bahkan 3D printing model otak untuk studi tentang penyakit neurodegeneratif!


                         (Advertisement about 3D printing near poster presentation station)


Event ini diadakan setahun sekali di Chalmers, jadi gak nyesel pilih Chalmers buat kuliah :P





Earth Brick and Stone: Workshop Frenzy