Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Wednesday, December 27, 2017

Earth Brick and Stone: Workshop Frenzy

Ini adalah bagian kelima dari cerita tentang perjalanan saya bekerja membantu pembangunan di Nepal menjalankan projek dari Engineers Without Borders, Juli 2017 lalu
Bagian 1: klik di sini
Bagian 2: klik di sini
Bagian 3: klik di sini
Bagian 4: klik di sini
Bagian 5: klik di sini




Setelah menyelesaikan perjalanan dan pekerjaan di Desa Deurali, saya dan Johan menghabiskan akhir pekan dengan bersantai. Kami, bersama pelajar dari Swedia lainnya mengunjungi beberapa landmark yang ada di Patan, daerah tempat kami tinggal.

  

Bergaya di Durbar Square. Tempat shooting film Dr. Strange


Suasana jalanan di Nepal

Perjalanan dan aktivitas di Deurali membuat kami sadar akan pentingnya keberhasilan Build up Nepal dalam mendistribusikan mesin CSEB serta mengadakan pelatihan bagi para penduduk desa terpencil demi membantu pembangunan dan rehabilitasi Nepal. Masalah yang akan kami hadapi adalah bagaimana membuat mesin CSEB yang rusak mudah diperbaiki. Agar supir dari Build up Nepal tidak perlu bolak-balik dari kota ke desa dan sebaliknya, yang membuat seluruh proses perbaikan memakan waktu tidak kurang dari 3 hari. Jika mesin bisa diperbaiki di tempat, maka proses perbaikan mesin tidak akan memakan waktu lebih dari 1 jam.

Sebelum bercerita mengenai bagaimana kami menyelesaikan masalah mesin tersebut, saya ingin bercerita tentang tugas kami yang lain. Kami juga harus membuat workshop Build up Nepal menjadi lebih baik. Di workshop inilah mekanik yang bertugas memperbaiki dan memodifikasi mesin bekerja. Barang-barang mulai dari alat hingga suku cadang pun disimpan di workshop yang harus kami rapihkan dan perbaiki keadaannya.


Suasana di Depan Workshop Build up Nepal

Perbaikan pertama yang kami lakukan adalah dengan mendesain dan membuat semacam gerobak untuk mengangkut mesin CSEB. Mesin CSEB yang datang atau pergi dari workshop harus diangkut sejauh kurang lebih 10 meter sebelum mencapai mobil/ tempat pengangkutan. Dengan berat mesin yang 200 kilogram, tidaklah mudah mengangkut mesin dan membawanya sejauh 10 meter, walaupun dengan tenaga 3 orang dewasa.


Mesin yang harus diangkut. Beratnya kurang lebih 200 kilogram

Gerobak yang kami desain bentuknya sangat sedarhana. Hanya berupa platform yang disangga oleh roda yang bisa didorong maupun ditarik. Selain itu, cukup mudah untuk mengangkut mesin dari lantai ke gerobak karena platformnya didesain agar tidak terlalu tinggi. Pekerjaan kami dibantu oleh mekanik dari Build up Nepal bernama Kabi. Selain pintar dan sangat terampil dalam pengerjaan mesin, Kabi juga cukup mahir berbahasa Inggris. Kami menjadi akrab hanya setelah beberapa kali pertemuan saja.


Gambar gerobak pengangkut sederhana yang dibuat dengan bahan apa adanya

Gerobak kami bikin menggunakan pelat baja dan besi bekas yang ada di sana. Pengerjaan selesai dalam hitungan jam saja berkat keterampilan Kabi. Kami berhasil membuat gerobak tersebut dan mempermudah pengangkutan mesin CSEB dari workshop ke tempat parkir mobil.

Tugas berikutnya adalah membuat workshop lebih teratur. Ada banyak suku cadang dan alat-alat tukang di sana. Semuanya berantakan tergeletak di mana-mana di workshop. Hal ini membuat Kabi dan rekan-rekan mekaniknya terkadang kebingungan saat ingin mengerjakan sesuatu. Sejak pertengahan minggu ketiga saya dan Johan memulai merancang tempat meletakkan barang, barang yang dibutuhkan, hingga belanja barang-barang tersebut ke jantung kota Kathmandu, ditemani Aasish, seorang engineer yang juga bekerja bersama kami di desa Deurali.


Saya dan Aasish berdiskusi

Kami merancang meja las untuk Kabi bekerja saat ia perlu mengelas, membeli beberapa alat standar keselamatan seperti topeng las, dan membuat gantungan di dinding tempat menyimpan alat- alat agar tidak mudah hilang. Kami menggunakan triplek yang diberi paku, lalu menggantungkan alat-alat di paku tersebut. Papan triplek yang sudah ditempelkan di dinding tersebut lalu diberi cat sehingga saat seseorang mengambil barang, dia tahu ke mana harus mengembalikannya.


Meja Las

Tool board/ papan alat


Tool board setelah dicat

Akhirnya workshop Build up Nepal pun terlihat lebih baik dan lebih rapi. Para mekanik terlihat menikmati rapih dan teraturnya workshop. Mohon maaf karena saya tidak sempat mengambil foto sebelum workshopnya dipermak, jadi hanya ada foto setelah workshop diperbaiki saja.


Di cerita berikutnya, saya akan menceritakan tentang bagaimana kami memperbaiki masalah mesin dan kegiatan kami setelahnya. Tunggu ya!








Monday, July 24, 2017

Earth Brick and Stone: Deurali


Ini adalah bagian ketiga dari cerita tentang perjalanan saya bekerja membantu pembangunan di Nepal menjalankan projek dari Engineers Without Borders, Juli 2017 lalu
Bagian 1: klik di sini
Bagian 2: klik di sini
Bagian 3: klik di sini
Bagian 4: klik di sini
Bagian 5: klik di sini

Akhir pekan pertama di Nepal, saya, Johan, dan tim dari Build up Nepal pergi ke sebuah desa bernama Deurali yang terletak di distrik Nuwakot, zona (semacam provinsi) Bagmati. Desa Deurali terletak sekitar 1500 meter di atas permukaan laut. Di ketinggian tersebut, temperaturnya tidak sedingin yang dikira. Misi kami: memberikan pelatihan dan membantu pemasangan mesin tekan earth brick (CSEB). Seperti banyak desa lainnya, Deurali terkena gempa di 2015 dan mengalami kerusakan berat. 150 dari 178 bangunan yang ada di sana rata dengan tanah dan peristiwa tersebut memakan 13 korban jiwa.


          Hamparan sawah di Deurali, mirip dengan Indonesia

Deurali sebenarnya tidaklah jauh dari Kathmandu. Namun butuh hampir seharian bagi kami untuk mencapainya dengan mobil. Alasannya: jalanan di Nepal tidak terlalu bagus dan pada saat itu sedang musim hujan. Banyak sekali lubang dan batu besar yang melengkapi jalanan antar kota. Kalau di bahasa inggris it was a very bumpy ride. Dilengkapi dengan tingginya curah hujan, jalanan jadi berlumpur, membuat mobil yang kami kendarai beberapa kali tersangkut di lumpur. Hal yang serupa terjadi juga pada puluhan truk dan bus yang kami jumpai sejalan perjalanan


Ini adalah pemandangan umum di jalanan antar-kota di Nepal

Suasana jalanan di lebih dari setengah waktu perjalanan kami

Di Deurali, ada seorang pengusaha lokal bernama Simon. Dialah yang akan kami tolong dalam memasang mesin CSEB. Ayah berusia 28 tahun ini berharap dapat menciptakan lapangan pekerjaan pagi penduduk desa, sekaligus membangun kembali desanya. Simon memiliki lahan yang cukup luas yang ia gunakan untuk bertani palawija dan beternak ayam, kambing, dan sapi. Simon bercerita ke saya bahwa dia baru tahu info tentang Build up Nepal belum lama. Saat gempa bumi melanda, banyak hewan ternaknya mati dan rumahnya hancur total. Sekarang, ia dan istrinya tinggal di gubuk yang ia bangun dari kayu dan batu.

Kami harus membawa mesin seberat 200 kilogram dari Kathmandu ke Deurali. Kami khawatir jalan yang rusak dapat membuat mesin oleng sehingga jatuh atau terbentur dan rusak. Untungnya, supir Build up Nepal, Jayram memiliki skill tingkat super dalam berkendara. Dia disebut-sebut punya pengalaman hampir 50 tahun mengemudikan mobil. Dia bisa menghindari hampir semua lubang yang ada di jalan namun membuat perjalanan terasa nyaman bagi kami penumpang. Respect Sir!

Kami tiba di Deurali Jumat sore. Tidak banyak waktu sebelum hari mulai gelap. Kami langsung memasang mesin CSEB, lalu berkoordinasi dengan Simon untuk memanggil penduduk desa besok pagi, untuk mengadakan pelatihan penggunaan mesin CSEB. Udara di sini jauh lebih segar daripada Kathmandu karena tidak ada polusi.

Besoknya, pekerjaan dimulai sangat terlambat, karena kami baru menyadari bahwa penduduk desa pergi bertani atau ke kota untuk mencari nafkah di pagi hari. Pelatihan baru bisa dimulai setelah lewat jam makan siang. Kami langsung mulai dengan memperkenalkan diri (walaupun sebelumnya Simon telah memberi tahu tentang kedatangan kami). Setelah perkenalan, kami langsung menunjukkan bagaimana cara memakai mesin, membuat campuran bata, dan beberapa perawatan yang harus dilakukan untuk mesin.



Pemasangan mesin

Setelah beberapa jam, para penduduk desa sudah bisa membuat bata mereka sendiri. Rasanya sangatlah memuaskan bisa melihat orang-orang dengan wajah gembira penuh harapan dapat membangun desa mereka setelah kejadian besar 2 tahun lalu. Tidak aneh sih, mengingat mereka tinggal di gubuk atau rumah yang tidak permanen sejak gempa bumi melanda.

                                                 Orang-orang mulai bekerja membuat bata

Pelatihan berlangsung selama 2 hari. Hari pertama petunjuk bagaimana menyiapkan dan membuat bata. Hari kedua fokus pada pengenalan masalah yang sering terjadi di mesin dan penanggulangannya. Masalah yang sering terjadi di mesin, terjadi di hari kedua. Adonan bata tidak bisa diangkat dari mesin setelah proses pemberian tekanan dilakukan. Penyebabnya adalah ada bagian mesin yang miring namun tidak mudah dilihat. Setelah memperlihatkan cara memperbaiki masalah tersebut, kami juga menekankan akan pentingnya pemberian pelumas dan pembersihan mesin secara berkala. Mereka mendengarkan dengan penuh fokus.



 Bahkan anak-anak ikut senang


Overall, ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Saya merasa senang melihat wajah penduduk desa yang penuh harapan. Semua nyeri punggung karena perjalanan berjam-jam dangan jalan yang tidak mulus terasa hilang begitu saja. 

Monday, April 24, 2017

Precious Lessons in April

Di atas langit masih ada langit. Itulah peribahasa yang harus terus kita hayati. Terkadang mendapat sedikit karunia, baik itu kemenangan, posisi, atau hadiah berupa material, membuat orang merasa lebih daripada yang lainnya. Padahal kemenangan, sejatinya hanyalah sementara karena hidup ini adalah perjuangan yang tanpa henti. Pun jikalau kita adalah orang yang hebat dan memiliki kemenangan, dunia ini bukanlah selebar daun kelor. Banyak orang yang lebih hebat di luar sana. Mereka semua punya cerita dan banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Dan pelajaran terbesar adalah saat kita merasakan kekalahan. Entah mengapa kita akan langsung menyadari apa saja yang kurang dalam diri kita saat kita terkalahkan dalam suatu kompetisi...yang sebenarnya juga kita sadari saat biasa-biasa saja tapi kita cenderung mengabaikannya.

Saya mau menceritakan pengalaman saya dan apa saja yang saya pelajari dari rangkaian acara yang saya ikuti baru-baru ini, dan membagikan sedikit tentang apa yang saya pelajari, mungkin kita bisa berdiskusi lebih jauh untuk mendapat pencerahan lebih jauh. Akhir Maret lalu, saya dan teman-teman saya mengikuti kompetisi bernama EBEC 2017 yang merupakan singkatan dari European BEST Engineering Competition atau Kompetisi Engineering BEST (= terbaik/ nama organisasi penyelenggaranya) se-Eropa. Kompetisi ini terdiri dari babak lokal, babak regional, dan babak final. Babak lokal diselenggarakan di Chalmers, di mana kami berkompetisi memecahkan masalah teknis dengan tema Industry 4.0 (tentang mengintegrasikan industri dengan komputer dan otomasi). Pemenang dari babak lokal akan dikirim ke babak regional se-Nordik (Nordik adalah daerah di eropa yang terdiri dari Swedia, Denmark, Norwegia, dan Finlandia).



SIngkat cerita, kami memenangkan kompetisi EBEC tingkat lokal ini. Kombinasi antara pengetahuan di bidang produksi, delegasi tugas yang pas, presentasi yang energik, ditambah semangat memenangkan lomba membuat kami menang. Saya merasa bangga saat itu. Saya merasa saya (dan tim saya) cukup baik untuk menyelesaikan masalah di bidang engineering. Jujur, ada sedikit bibit kesombongan dalam hati saya. Ini bukanlah hal yang baik, dan merupakan kebiasaan buruk saya yang sampai sekarang masih saya coba untuk hentikan. Tapi paling tidak saya berhasil untuk “tidak terlalu pamer” karena saya cukup sadar bahwa kesombongan bakal membawa petaka nantinya.
Sekitar 3 minggu setelah kemenangan itu, kami pergi ke Lund untuk berkompetisi di babak regional. Singkat cerita, kami tidak memenangkan babak ini sehingga kami tidak bisa ikut babak final bulan Agustus nanti. Tapi di sini saya mau membagikan pelajaran apa saja yang saya dapat dari kekalahan kemarin.

Kompetisi EBEC tingkat regional Nordik kali ini bertema tentang bagaimana mengembagkan teknologi untuk membantu orang dengan disabilitas. Dan definisi dari “disabilitas” di sini cukup luas. Dulu saya berpikir bahwa disabilitas berarti orang yang cacat fisik seperti pincang atau lumpuh. Namun, ada juga disabilitas yang dinamakan disabilitas kognitif, yaitu orang yang memiliki kelemahan dalam berpikir. Bukan berarti orang itu bodoh, namun bisa jadi karena ada masalah di otaknya. Contohnya paling sederhana adalah veteran perang yang kepalanya terbentur cukup keras hingga sekarang jadi sangat mudah lupa. Contoh lainnya adalah orang yang menderita alzheimer sehingga kesulitan untuk melakukan hal-hal yang sederhana. Maka tugas kita kaum terpelajar dan tidak punya disabilitaslah untuk membantu mereka menjalani hidupnya secara normal. Bukankah tugas yang kuat itu menolong yang lemah?

Studi kasus yang menjadi bahan kompetisi kali ini adalah mengenai seorang tokoh fiktif bernama Henrik yang mengalami kesulitan dalam membaca, tidak punya sense of measurement (dia tidak bisa membedakan mana “terlalu banyak” mana “terlalu sedikit”), sangat mudah frustrasi saat menghadapi tekanan, dan beberapa masalah kognitif lainnya yang membuat dia tidak bisa menjalani kehidupan layaknya manusia biasa. Tugas seluruh peserta adalah merancang pertolongan apa yang dapat kita manfaatkan untuk membuat dia dapat bepergian ke luar negeri dengan menggunakan berbagai sumber transportasi.

Kesan pertama saya adalah: WOW ini sesuatu yang baru! Karena setahu saya di Indonesia, orang dengan disabilitas biasanya ditemani oleh perawat, baik itu perawat professional, teman, atau keluarga (hampir) ke manapun mereka bepergian. Tapi nampaknya di benua biru ini, selain ingin membantu, orang-orang juga menjunjung tinggi nilai “Independent” atau sedapat mungkin tidak membuat si penyandang disabilitas terlalu bergantung pada orang. Salah satu nilai tambah dari hal ini adalah membuat si penyandang disabilitas tidak merasa diri mereka menyedihkan, dan membuat paradigma positif bahwa seburuk-buruknya disabilitas yang mereka alami, mereka tetap manusia dewasa yang bisa mengurus diri mereka sendiri.

Singkat cerita, kami diberi waktu sehari-semalam (dipotong waktu istirahat, makan, dan bersosialisasi) untuk berdiskusi dan memberikan presentasi di hadapan para juri yang nanti akan menilai penampilan para peserta. Kesalahan pertama saya adalah saya masih agak merasa “gampang lah bisa menang nih”. Saya dan tim saya banyak menghasilkan ide-ide gila dan original, tapi saya merasakan bahwa komunikasi kami sebagai tim kurang intens dibandingkan dengan saat babak lokal kemarin. Sehingga walaupun banyak ide yang bagus dan cukup bisa diimplementasikan, kami tidak bisa fokus ke ide mana yang harus diutamakan. Kami ingin menampilkan semua ide-ide kami, akibatnya, saat presentasi, tiap ide hanya dibahas permukaannya tanpa membahas lebih dalam esensi dari ide-ide tersebut.

Kesalahan kedua saya (dan tim saya) adalah kurang menunjukkan empati pada tokoh Henrik ini. Saya merasa seharusnya kami membahas apa saja yang diderita Henrik, apa implikasi tiap-tiap kekurangannya pada tiap bagian di perjalanannya, dan apa yang bisa dilakukan untuk meringankan penderitaannya, namun tetap membuatnya cukup mandiri sebagai manusia dewasa. Namun, kesalahan terbesar saya adalah saat saya mencoba bekerja sendiri saat yang lain sedang beristirahat di malam hari. Saat itu jam 2 pagi, semua anggota tim dan peserta kompetisi lain sedang beristirahat. Saya memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan sendiri agar esoknya kami bisa punya waktu lebih untuk mempersiapkan isi presentasi dan bersiap-siap untuk menampilkan presentasinya. Biasanya, di hidup saya ini adalah foolproof strategy. Karena memberikan effort ekstra saat yang lain sedang bersenang-senang atau nyenyak dalam tidur mereka adalah cara para juara mempersiapkan kompetisi mereka...paling tidak itulah yang sering ditunjukkan di film-film penuh motivasi seperti Rocky, Karate Kid, atau kisah kemenangan atlit-atlit kelas dunia. Begitu pula pada diri saya, banyak kesuksesan yang saya raih salah satu faktornya adalah saya bersedia bekerja lebih keras saat yang lain sedang berpesta, tidur, atau berlibur. Dengan sedikit pembenaran: biar gak telat subuh, jadi tidur habis subuh aja, saya meneruskan pekerjaan saya semalam suntuk.

Nampaknya, strategi “pintar” saya tidak bisa dilakukan di semua aspek kehidupan dan asal dipakai seenaknya. Saya tidak menyadari bahwa saya sudah sangat lelah karena acara EBEC ini terdiri dari banyak aktivitas. Saya bisa tetap bangun dan bekerja karena saya menenggak beberapa gelas kopi, namun itu tidak membuat otak saya bekerja se-optimal biasanya. Selain itu, hal ini membuat saya tidak bisa berkomunikasi dengan anggota tim lainnya. Sehingga esoknya, malah banyak yang harus disesuaikan dan cukup banyak waktu terbuang karenanya. Sebagai pelengkap, saya hanya tidur sekitar 4 jam, ditambah akumulasi kelelahan akibat semua rangkaian aktivitas rangkaian acara EBEC, ditambah sebelum berangkat ke EBEC saya masih begadang demi thesis saya. Jadi pada saat presentasi, saya akui saya tidak dalam kondisi se-prima saat di babak kompetisi lokal. Teman-teman tim saya melakukan presentasi dengan sangat baik, namun saya tidak. Omongan saya terlalu cepat, bahasa Inggris saya gagu, sehingga poin-poin yang mau disampaikan ke juri kurang mengena. Padahal bagian presentasi saya adalah inti dari solusi yang kami ajukan untuk masalah si Henrik.

Sebelum melanjutkan cerita tentang kompetisi, saya juga ingin menceritakan bagian lain dari rangkaian aktivitas di EBEC ini. Ada 3 orang yang berperan sebagai juri. 2 orang merupakan professor di Universitas Lund yang bergerak di bidang desain untuk menolong orang dengan disabilitas. Sebagai orang Indonesia, ini hal yang benar-benar baru. 1 orang lagi adalah perwakilan dari asosiasi engineer di Swedia. Mereka memberikan kuliah umum tentang bagaimana mendesain sesuatu atau fasilitas yang bisa membantu orang-orang dengan disabilitas sedekat mungkin dengan menjalani hidup normal. Saya mendapat gambaran betapa butuh perencanaan yang teliti dan betapa butuh kesabaran dan empati dalam merancang hal-hal seperti ini. Pelajaran yang saya ambil di sini: kalau mau menolong orang, kita harus pintar!

Kuliah umum tentang desain untuk penyandang disabilitas


Akhirnya tibalah saat semua tim mempresentasikan hasil studi kasus mereka. Hampir semua tim menggunakan strategi untuk mendesain suatu aplikasi pada gadget untuk membantu si Henrik dalam perjalanannya. Yang membuat saya terkesima adalah semua tim bisa memunculkan ide-ide yang out of the box dalam waktu singkat. Lalu tingkat empati yang mereka berikan pada karakter Henrik ini luar biasa. Mereka bisa membandingkan dan memberi gambaran kesulitan apa saja yang akan dialami oleh penyandang disabilitas dalam aktivitas sehari-hari. Walaupun itu hanya sesederhana bepergian. Ditambah dengan penyampaian presentasi yang sangat menarik dan bahasa Inggris yang enak didengar, membuat saya merasa malu pernah merasa sombong. Lagi-lagi peribahasa masih ada langit di atas langit kembali menunjukkan kebenarannya.

Kegagalan merebut posisi pemenang di babak Nordik bukanlah yang pertama kalinya saya merasakan pahitnya kekalahan. Namun, dibalik itu adalah kesadaran bahwa kegagalan adalah guru yang baik. Dari sini saya lebih menyadari apa saja yang kurang dari diri saya dan apa saja yang bisa saya latih dan perbaiki lagi. Dan sebagai orang yang terdidik untuk melihat hikmah di balik semuanya, saya bisa berpikir positif bahwa jika kami menang, maka kami harus beraksi di babak final bulan Agustus nanti. Pada bulan Agustus kemungkinan besar akan berada di Nepal (akan dibahas di post berikutnya ya!), jadi mari anggap saja ini kehendak Tuhan agar saya bisa fokus ke hal lain dan sebuah pecut untuk menjadi orang yang lebih baik.

Sekarang tinggal bagaimana caranya agar semua pelajaran yang saya dapat beberapa hari yang lalu bisa terpatri di hati.
Semoga menginspirasi!

Wednesday, September 7, 2016

Kirim Uang ke Tanah Air dengan Mudah

Merantau ke luar negeri, baik belajar maupun bekerja, meninggalkan keluarga di tanah air. Demi memperbaiki nasib, kita berjuang di negeri orang, berhadapan dengan budaya, iklim, dan tipe orang yang berbeda. Pada umumnya (paling tidak kebanyakan orang-orang yang saya kenal) belajar di luar negeri didanai oleh beasiswa, baik oleh pihak dari Indonesia (LPDP, DIKTI, dan sebagainya) atau pihak dari negara tempat kita belajar.

Tentunya sebagai generasi muda penerus bangsa, tidak jarang kita ingin menyisihkan sebagian uang kita untuk menabung atau berbakti pada keluarga/kerabat di Indonesia. Sama halnya seperti kebiasaan banyak orang untuk mengirimkan gaji pertama ke orang tua, dana beasiswa pun bisa disisihkan untuk itu. Untuk itu, kita perlu melakukan transfer uang dari rekening bank sini (baca: luar negeri) ke rekening tujuan di Indonesia, baik itu rekening pribadi untuk menabung, maupun rekening anggota keluarga yang mau dikirimkan uang.

Namun, transfer uang dari negara ke negara lain bukanlah perkara sederhana. Pertama, waktu yang diperlukan tidaklah sedikit karena banyaknya proses administrasi yang harus dilalui. Terkadang akan memakan waktu sampai 2 minggu agar uang yang kita kirim ke Indonesia sampai. Kedua, biaya yang dikenakan untuk mengirim uang tidaklah sedikit. Saya beri ilustrasi dengan percobaan saya mengirim uang ke rekening saya di Indonesia dari suatu bank di Swedia berikut:  



Untuk mengirim 1000 Swedish Krona (sekitar 1.5 juta sekian rupiah), diperlukan 275 Swedish krona (sekitar 450 ribu rupiah). Hal ini membuat saya berpikir 2-3-4 kali sebelum mentransfer uang ke Indonesia. Jadi gimana dong? Baru-baru ini, saya menemukan solusinya. Solusinya adalah gunakan Transferwise.

Apa itu Transferwise?
Menurut wikipedia: 
"TransferWise is an peer-to-peer money transfer service launched in January 2011 by Kristo Käärmann and Taavet Hinrikus. It is headquartered in London and has offices in Tallinn and New York."

Transferwise adalah perusahaan yang bergerak di jasa pengiriman uang. Salah satu pendirinya, Taavet Hinrikus, merupakan pegawai pertama Skype (itu loh, yang buat video call). Yang membuat transferwise lebih unggul (katanya bisa 8x lebih murah daripada transfer uang internasional antar bank) adalah sistem yang beliau ciptakan. Sederhananya, Transferwise punya banyak rekening bank di berbagai negara. Jika ingin mengirim uang ke negara X, kita tinggal mengirim uang ke rekening Transferwise di negara asal kita, lalu Transferwise akan mengirim uang dengan jumlah yang (kurang lebih) sama, ke rekening tujuan kita di negara X.

Transferwise dapat digunakan untuk mengirim uang ke-dan-dari negara-negara berikut:
1. Negara-negara eropa bermata uang Euro (Jerman, Belanda, dll)
2. United Kingdom 
3. Amerika Serikat
4. Australia
5. Hungaria
6. India
7. Poland
8. Swiss
9. Afrika Selatan
10. Korea Selatan
11. Swedia
12. Denmark
13. Norwegia
14. Kanada
15. Jepang
16. Republik Ceko
17. Bulgaria
18. Singapore
19. Meksiko
20. Sri Lanka
21. Selandia Baru
22. Hongkong
23. Georgia
24. Romania
25. Kolombia
26. Malaysia
27. Filipina
28. Brazil
29. Rusia
30. Bangladesh
31. Pakistan
32. Moroko
33. Cina
34. Thailand
35. United Arab Emirates
36. Ukraina
37. Indonesia
38. Turki
39. Vietnam

 Berikut skema cara kerjanya.

(dari wikipedia)

Contohnya saya mau transfer uang ke rekening pribadi saya di Indonesia dari Swedia:
1.Saya tinggal daftar, isi form dan lain-lain, 
2.Lalu bayar jumlah uang yang mau saya transfer (tambah biaya jasa) ke rekeningnya Transferwise di Swedia,
3.Transferwise akan mengirim uang tersebut dari rekening mereka di Indonesia ke rekening bank yang saya tuju tadi.

Segimana murah sih?
Nih perbandingannya:

Saya Cuma butuh 14.78 Swedish Krona (sekitar 20-sekian ribu rupiah)

Tapi aman gak?

Berdasarkan website Transferwise:
Without the tightest of security, there is no TransferWise. It’s as important to us as it is to you”
Mereka menggunakan bank dan partner dari seluruh dunia, mempunyai tim khusus untuk menjaga keamanan transaksi kita. Semua transaksi dilindungi enkripsi HTTPS standar industry. Dan Transferwise sudah diregulasi dan dikenal di berbagai belahan dunia.
Prosesnya ribet gak?
Cukup simpel. Pertama daftar kamu akan diminta mengisi form data diri standar, lalu kamu harus meng-upload scan paspormu untuk verifikasi. Sesudahnya tinggal ikuti langkah-langkahnya saja. Total waktu pengiriman 1-4 hari kerja.
But wait, there is more!
Kalau kamu daftar lewat link referral saya https://transferwise.com/u/muhammadb41 kamu bisa dapat transfer pertama gratis! Gunakan link tadi untuk daftar saja, sisanya bisa masuk lewat transferwise.com.
Selamat mencoba dan menikmati!
Detailnya tentang regulasi keamanan Transferwise ada di sini https://transferwise.com/help/article/1870573/security/security-and-regulatory-information 

Tuesday, August 30, 2016

Tumbuhnya Rasa Cinta Terhadap Indonesia di Negeri Orang


Hammarkulle, sebuah daerah yang terletak di Timur Laut Kota Gothenburg, Swedia. Tempat ini memiliki keanekaragaman budaya yang cukup kaya karena orang-orang dari berbagai macam suku bangsa tinggal di sini. Mulai dari timur tengah, amerika latin, hingga afrika. Sejak akhir tahun 70-an, di daerah ini diadakan karnaval tahunan. Karnaval yang diadakan di sekitar bulan Mei ini menampilkan budaya dari berbagai macam negara.
Tahun ini, Hammarkullekarnevalen, atau karnaval Hammarkulle, diadakan tanggal 28 Mei lalu dan merupakan karnaval terbesar di Gothenburg. Ribuan orang berpartisipasi di karnaval ini. Parade, stand jajanan, dan penampilan di panggung menjadi bagian dari karnaval ini. Pengunjung dapat menyicipi makanan dari berbagai negara, mulai dari wafel Belgia hingga Ćevapi dari negara Balkan.
Bagian dari parade di Hammarkullekarnevalen

Salah satu dari lusinan performer di karnaval tersebut adalah was Indonesiska Föreningen i Göteborg (forum Indonesia di Gothenburg). Dengan memakai pakaian tradisional Indonesia (tepatnya pakaian dari Sumatera Barat dan Bali), mereka menampilkan 2 tarian tradisional Indonesia. Saya merupakan salah satu dari mereka.
Penampilan pertama adalah tari Cenderawasih yang ditampilkan oleh Andita dan Yeni dengan pakaian tradisional Bali. Tarian yang terinspirasi dari burung cendrawasih ini memukau penonton dengan gerakan-gerakannya yang mengalir dan indah. Rok pada pakaian mereka memberikan impresi ekor dan kepakan sayap cenderawasih.
Mbak Andita dan Mbak Yeni menampilkan tari Cenderawasih

Lalu dimulailah tarian kedua, Tari Serampang Dua Belas yang berasal dari Deli Serdang, Sumatera Barat. Tarian ini merepresentasikan perjalanan pemuda dan pemudi dalam mencari cinta. Gerakan-gerakan dari tarian ini sarat akan filosofi perjalanan cinta pemuda dan pemudi Indonesia. Santun, halus, dan penuh rasa hormat terhadap lawan jenisnya, dihiasi oleh sedikit gerakan lucu yang menunjukkan rasa malu-malu saat mencoba memikat pujaan hati. Saya dan Luki, sekaligus sebagai perwakilan mahasiswa Indonesia di Swedia memerankan laki-laki, sementara Mbak Herny dan Mbak Gamma memerankan perempuan di tarian ini.
Tari Serampang Dua Belas

Kami hanya punya waktu 1 bulan untuk mempersiapkan diri melakukan tarian yang rumit ini. Setahu saya, dibutuhkan lebih dari 3 bulan untuk dapat melakukannya dengan sempurna, sehingga bisa ditebak bahwa kami melakukan beberapa kesalahan saat menampilkan tarian di sana. Namun, penonton nampak terhibur dengan penampilan kami, melihat dari cara mereka bertepuk tangan dan sorak sorai yang meriah.
Sejujurnya, dulu saya hampir tidak pernah peduli dengan hal-hal tradisional Indonesia seperti seni, budaya, tarian dan semacamnya. Namun, berada 14000 kilometer dari rumah malah menyadarkan saya bahwa budaya Indonesia memang sangat kaya, indah, dan patut diberi apresiasi. Hidup di lingkungan internasional, seperti kuliah di Swedia memberi banyak kesempatan untuk memperkenalkan negara kita ke dunia luar. Kita juga bisa mengambil esensi dan filosofi dari budaya, seni, atau tarian-tarian Indonesia untuk diaplikasikan di kehidupan dunia modern dan era globalisasi ini.

Terakhir, saya juga dapat mengenal lebih banyak budaya dari berbagai belahan dunia. Semuanya indah dan memiliki filosofinya tersendiri. Festival Hammarkullekarnevalen diadakan setiap tahun. Jangan ditanya, saya ingin melakukan performance lagi tahun depan. Hobi saya di bela diri membuat saya ingin melakukan performance silat untuk karnaval berikutnya.

Siap untuk Menampilkan Silat Tahun Depan! Apakah Hanya Akan Menjadi Wacana?

Earth Brick and Stone: Workshop Frenzy