Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Monday, April 24, 2017

Precious Lessons in April

Di atas langit masih ada langit. Itulah peribahasa yang harus terus kita hayati. Terkadang mendapat sedikit karunia, baik itu kemenangan, posisi, atau hadiah berupa material, membuat orang merasa lebih daripada yang lainnya. Padahal kemenangan, sejatinya hanyalah sementara karena hidup ini adalah perjuangan yang tanpa henti. Pun jikalau kita adalah orang yang hebat dan memiliki kemenangan, dunia ini bukanlah selebar daun kelor. Banyak orang yang lebih hebat di luar sana. Mereka semua punya cerita dan banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Dan pelajaran terbesar adalah saat kita merasakan kekalahan. Entah mengapa kita akan langsung menyadari apa saja yang kurang dalam diri kita saat kita terkalahkan dalam suatu kompetisi...yang sebenarnya juga kita sadari saat biasa-biasa saja tapi kita cenderung mengabaikannya.

Saya mau menceritakan pengalaman saya dan apa saja yang saya pelajari dari rangkaian acara yang saya ikuti baru-baru ini, dan membagikan sedikit tentang apa yang saya pelajari, mungkin kita bisa berdiskusi lebih jauh untuk mendapat pencerahan lebih jauh. Akhir Maret lalu, saya dan teman-teman saya mengikuti kompetisi bernama EBEC 2017 yang merupakan singkatan dari European BEST Engineering Competition atau Kompetisi Engineering BEST (= terbaik/ nama organisasi penyelenggaranya) se-Eropa. Kompetisi ini terdiri dari babak lokal, babak regional, dan babak final. Babak lokal diselenggarakan di Chalmers, di mana kami berkompetisi memecahkan masalah teknis dengan tema Industry 4.0 (tentang mengintegrasikan industri dengan komputer dan otomasi). Pemenang dari babak lokal akan dikirim ke babak regional se-Nordik (Nordik adalah daerah di eropa yang terdiri dari Swedia, Denmark, Norwegia, dan Finlandia).



SIngkat cerita, kami memenangkan kompetisi EBEC tingkat lokal ini. Kombinasi antara pengetahuan di bidang produksi, delegasi tugas yang pas, presentasi yang energik, ditambah semangat memenangkan lomba membuat kami menang. Saya merasa bangga saat itu. Saya merasa saya (dan tim saya) cukup baik untuk menyelesaikan masalah di bidang engineering. Jujur, ada sedikit bibit kesombongan dalam hati saya. Ini bukanlah hal yang baik, dan merupakan kebiasaan buruk saya yang sampai sekarang masih saya coba untuk hentikan. Tapi paling tidak saya berhasil untuk “tidak terlalu pamer” karena saya cukup sadar bahwa kesombongan bakal membawa petaka nantinya.
Sekitar 3 minggu setelah kemenangan itu, kami pergi ke Lund untuk berkompetisi di babak regional. Singkat cerita, kami tidak memenangkan babak ini sehingga kami tidak bisa ikut babak final bulan Agustus nanti. Tapi di sini saya mau membagikan pelajaran apa saja yang saya dapat dari kekalahan kemarin.

Kompetisi EBEC tingkat regional Nordik kali ini bertema tentang bagaimana mengembagkan teknologi untuk membantu orang dengan disabilitas. Dan definisi dari “disabilitas” di sini cukup luas. Dulu saya berpikir bahwa disabilitas berarti orang yang cacat fisik seperti pincang atau lumpuh. Namun, ada juga disabilitas yang dinamakan disabilitas kognitif, yaitu orang yang memiliki kelemahan dalam berpikir. Bukan berarti orang itu bodoh, namun bisa jadi karena ada masalah di otaknya. Contohnya paling sederhana adalah veteran perang yang kepalanya terbentur cukup keras hingga sekarang jadi sangat mudah lupa. Contoh lainnya adalah orang yang menderita alzheimer sehingga kesulitan untuk melakukan hal-hal yang sederhana. Maka tugas kita kaum terpelajar dan tidak punya disabilitaslah untuk membantu mereka menjalani hidupnya secara normal. Bukankah tugas yang kuat itu menolong yang lemah?

Studi kasus yang menjadi bahan kompetisi kali ini adalah mengenai seorang tokoh fiktif bernama Henrik yang mengalami kesulitan dalam membaca, tidak punya sense of measurement (dia tidak bisa membedakan mana “terlalu banyak” mana “terlalu sedikit”), sangat mudah frustrasi saat menghadapi tekanan, dan beberapa masalah kognitif lainnya yang membuat dia tidak bisa menjalani kehidupan layaknya manusia biasa. Tugas seluruh peserta adalah merancang pertolongan apa yang dapat kita manfaatkan untuk membuat dia dapat bepergian ke luar negeri dengan menggunakan berbagai sumber transportasi.

Kesan pertama saya adalah: WOW ini sesuatu yang baru! Karena setahu saya di Indonesia, orang dengan disabilitas biasanya ditemani oleh perawat, baik itu perawat professional, teman, atau keluarga (hampir) ke manapun mereka bepergian. Tapi nampaknya di benua biru ini, selain ingin membantu, orang-orang juga menjunjung tinggi nilai “Independent” atau sedapat mungkin tidak membuat si penyandang disabilitas terlalu bergantung pada orang. Salah satu nilai tambah dari hal ini adalah membuat si penyandang disabilitas tidak merasa diri mereka menyedihkan, dan membuat paradigma positif bahwa seburuk-buruknya disabilitas yang mereka alami, mereka tetap manusia dewasa yang bisa mengurus diri mereka sendiri.

Singkat cerita, kami diberi waktu sehari-semalam (dipotong waktu istirahat, makan, dan bersosialisasi) untuk berdiskusi dan memberikan presentasi di hadapan para juri yang nanti akan menilai penampilan para peserta. Kesalahan pertama saya adalah saya masih agak merasa “gampang lah bisa menang nih”. Saya dan tim saya banyak menghasilkan ide-ide gila dan original, tapi saya merasakan bahwa komunikasi kami sebagai tim kurang intens dibandingkan dengan saat babak lokal kemarin. Sehingga walaupun banyak ide yang bagus dan cukup bisa diimplementasikan, kami tidak bisa fokus ke ide mana yang harus diutamakan. Kami ingin menampilkan semua ide-ide kami, akibatnya, saat presentasi, tiap ide hanya dibahas permukaannya tanpa membahas lebih dalam esensi dari ide-ide tersebut.

Kesalahan kedua saya (dan tim saya) adalah kurang menunjukkan empati pada tokoh Henrik ini. Saya merasa seharusnya kami membahas apa saja yang diderita Henrik, apa implikasi tiap-tiap kekurangannya pada tiap bagian di perjalanannya, dan apa yang bisa dilakukan untuk meringankan penderitaannya, namun tetap membuatnya cukup mandiri sebagai manusia dewasa. Namun, kesalahan terbesar saya adalah saat saya mencoba bekerja sendiri saat yang lain sedang beristirahat di malam hari. Saat itu jam 2 pagi, semua anggota tim dan peserta kompetisi lain sedang beristirahat. Saya memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan sendiri agar esoknya kami bisa punya waktu lebih untuk mempersiapkan isi presentasi dan bersiap-siap untuk menampilkan presentasinya. Biasanya, di hidup saya ini adalah foolproof strategy. Karena memberikan effort ekstra saat yang lain sedang bersenang-senang atau nyenyak dalam tidur mereka adalah cara para juara mempersiapkan kompetisi mereka...paling tidak itulah yang sering ditunjukkan di film-film penuh motivasi seperti Rocky, Karate Kid, atau kisah kemenangan atlit-atlit kelas dunia. Begitu pula pada diri saya, banyak kesuksesan yang saya raih salah satu faktornya adalah saya bersedia bekerja lebih keras saat yang lain sedang berpesta, tidur, atau berlibur. Dengan sedikit pembenaran: biar gak telat subuh, jadi tidur habis subuh aja, saya meneruskan pekerjaan saya semalam suntuk.

Nampaknya, strategi “pintar” saya tidak bisa dilakukan di semua aspek kehidupan dan asal dipakai seenaknya. Saya tidak menyadari bahwa saya sudah sangat lelah karena acara EBEC ini terdiri dari banyak aktivitas. Saya bisa tetap bangun dan bekerja karena saya menenggak beberapa gelas kopi, namun itu tidak membuat otak saya bekerja se-optimal biasanya. Selain itu, hal ini membuat saya tidak bisa berkomunikasi dengan anggota tim lainnya. Sehingga esoknya, malah banyak yang harus disesuaikan dan cukup banyak waktu terbuang karenanya. Sebagai pelengkap, saya hanya tidur sekitar 4 jam, ditambah akumulasi kelelahan akibat semua rangkaian aktivitas rangkaian acara EBEC, ditambah sebelum berangkat ke EBEC saya masih begadang demi thesis saya. Jadi pada saat presentasi, saya akui saya tidak dalam kondisi se-prima saat di babak kompetisi lokal. Teman-teman tim saya melakukan presentasi dengan sangat baik, namun saya tidak. Omongan saya terlalu cepat, bahasa Inggris saya gagu, sehingga poin-poin yang mau disampaikan ke juri kurang mengena. Padahal bagian presentasi saya adalah inti dari solusi yang kami ajukan untuk masalah si Henrik.

Sebelum melanjutkan cerita tentang kompetisi, saya juga ingin menceritakan bagian lain dari rangkaian aktivitas di EBEC ini. Ada 3 orang yang berperan sebagai juri. 2 orang merupakan professor di Universitas Lund yang bergerak di bidang desain untuk menolong orang dengan disabilitas. Sebagai orang Indonesia, ini hal yang benar-benar baru. 1 orang lagi adalah perwakilan dari asosiasi engineer di Swedia. Mereka memberikan kuliah umum tentang bagaimana mendesain sesuatu atau fasilitas yang bisa membantu orang-orang dengan disabilitas sedekat mungkin dengan menjalani hidup normal. Saya mendapat gambaran betapa butuh perencanaan yang teliti dan betapa butuh kesabaran dan empati dalam merancang hal-hal seperti ini. Pelajaran yang saya ambil di sini: kalau mau menolong orang, kita harus pintar!

Kuliah umum tentang desain untuk penyandang disabilitas


Akhirnya tibalah saat semua tim mempresentasikan hasil studi kasus mereka. Hampir semua tim menggunakan strategi untuk mendesain suatu aplikasi pada gadget untuk membantu si Henrik dalam perjalanannya. Yang membuat saya terkesima adalah semua tim bisa memunculkan ide-ide yang out of the box dalam waktu singkat. Lalu tingkat empati yang mereka berikan pada karakter Henrik ini luar biasa. Mereka bisa membandingkan dan memberi gambaran kesulitan apa saja yang akan dialami oleh penyandang disabilitas dalam aktivitas sehari-hari. Walaupun itu hanya sesederhana bepergian. Ditambah dengan penyampaian presentasi yang sangat menarik dan bahasa Inggris yang enak didengar, membuat saya merasa malu pernah merasa sombong. Lagi-lagi peribahasa masih ada langit di atas langit kembali menunjukkan kebenarannya.

Kegagalan merebut posisi pemenang di babak Nordik bukanlah yang pertama kalinya saya merasakan pahitnya kekalahan. Namun, dibalik itu adalah kesadaran bahwa kegagalan adalah guru yang baik. Dari sini saya lebih menyadari apa saja yang kurang dari diri saya dan apa saja yang bisa saya latih dan perbaiki lagi. Dan sebagai orang yang terdidik untuk melihat hikmah di balik semuanya, saya bisa berpikir positif bahwa jika kami menang, maka kami harus beraksi di babak final bulan Agustus nanti. Pada bulan Agustus kemungkinan besar akan berada di Nepal (akan dibahas di post berikutnya ya!), jadi mari anggap saja ini kehendak Tuhan agar saya bisa fokus ke hal lain dan sebuah pecut untuk menjadi orang yang lebih baik.

Sekarang tinggal bagaimana caranya agar semua pelajaran yang saya dapat beberapa hari yang lalu bisa terpatri di hati.
Semoga menginspirasi!

Wednesday, November 9, 2016

Materials for Tomorrow 2016: Mengintip Masa Depan dengan Kemajuan di Bidang Material

“Materials for Tomorrow” adalah event tahunan yang diadakan di Chalmers di mana ilmuwan, researcher, dan pihak dari industri memberikan pandangan terhadap tantangan dan potensi di bidang ilmu dan teknik material. Tahun ini, acara diselenggarakan dari hari Selasa 8 November hingga Kamis 10 November. Sebagai mahasiswa jurusan teknik material, kesempatan ini tidak saya lewatkan dong!


Dari sekian banyak sesi yang ada, salah satu yang saya datangi adalah sesi tentang 3D printing, atau Additive Manufacturing. 3D printing memang merupakan teknologi yang lagi trending belakangan ini. Banyak blogger dan youtuber membagikan pengalaman mereka membuat barang dengan teknologi ini. Bahkan, banyak perusahaan didirikan dengan basis 3D printing. Sebenarnya, 3D printing bukanlah teknologi yang baru loh. 3D printing sudah ada sejak 28 tahun yang lalu!

Kegunaan yang paling “fancy” untuk 3D printing adalah untuk keperluan medis. Dengan 3D printing, kita bisa membuat implant untuk pinggul, lutut (atau sendi yang ada di lutut, lupa namanya apa). Dan yang paling keren adalah cranium framework, yaitu menambal tulang yengkorak yang bocor/retak (dengan asumsi si pasien masih hidup ya). Penggunaan teknologi seperti ini telah menolong ribuan, atau jutaan pasien di seluruh dunia.


                                                      (The Lecture about 3D printing)

“State of the art” lainnya tentang material adalah tentang biopolimer kayu. Sang pembicara kebetulan adalah pengajar di salah satu kuliah yang saya ambil semester lalu. Berkolaborasi dengan Wallenberg Wood Science Center, sang pembicara memaparkan potensi dari produk-produk hutan. Ternyata kayu dari hutan tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk furnitur, bahan konstruksi, atau kertas, tapi kita juga bisa melakukan ekstraksi nanocellulose...sebuah material yang bisa dimanfaatkan untuk aplikasi 3D printing. Aplikasi dari teknologi ini di antaranya “smart” packaging (ini juga saya gak ngerti apa) dan keperluan medis seperti 3D printing jaringan (jaringan dalam arti biologis), sehingga di masa depan bukan tidak mungkin kita bisa melakukan 3D printing bagian tubuh yang luka/cacat karena kecelakaan misalnya. Ditambah lagi, 70% area di Swedia adalah hutan. Digabungkan dengan pengelolaan yang benar dan regulasi yang ketat, mereka bisa menjual “produk” dengan harga tinggi namun juga sustainable...Bayangkan Indonesia kayak gitu ya...

Sesi berikutnya di sore hari adalah presrntasi poster dari peneliti dan ilmuwan dari berbagai penjuru dunia. Semua hasil riset dan penemuannya luar biasa (walau belum sekeren film superhero atau sci-fi siih). Mulai dari kertas anti basah, progres tentang graphene (salah satu material trending), konversi metana ke metanol (mengurangi dampak global warming yeaay!), dan bahkan 3D printing model otak untuk studi tentang penyakit neurodegeneratif!


                         (Advertisement about 3D printing near poster presentation station)


Event ini diadakan setahun sekali di Chalmers, jadi gak nyesel pilih Chalmers buat kuliah :P





Wednesday, September 7, 2016

Kirim Uang ke Tanah Air dengan Mudah

Merantau ke luar negeri, baik belajar maupun bekerja, meninggalkan keluarga di tanah air. Demi memperbaiki nasib, kita berjuang di negeri orang, berhadapan dengan budaya, iklim, dan tipe orang yang berbeda. Pada umumnya (paling tidak kebanyakan orang-orang yang saya kenal) belajar di luar negeri didanai oleh beasiswa, baik oleh pihak dari Indonesia (LPDP, DIKTI, dan sebagainya) atau pihak dari negara tempat kita belajar.

Tentunya sebagai generasi muda penerus bangsa, tidak jarang kita ingin menyisihkan sebagian uang kita untuk menabung atau berbakti pada keluarga/kerabat di Indonesia. Sama halnya seperti kebiasaan banyak orang untuk mengirimkan gaji pertama ke orang tua, dana beasiswa pun bisa disisihkan untuk itu. Untuk itu, kita perlu melakukan transfer uang dari rekening bank sini (baca: luar negeri) ke rekening tujuan di Indonesia, baik itu rekening pribadi untuk menabung, maupun rekening anggota keluarga yang mau dikirimkan uang.

Namun, transfer uang dari negara ke negara lain bukanlah perkara sederhana. Pertama, waktu yang diperlukan tidaklah sedikit karena banyaknya proses administrasi yang harus dilalui. Terkadang akan memakan waktu sampai 2 minggu agar uang yang kita kirim ke Indonesia sampai. Kedua, biaya yang dikenakan untuk mengirim uang tidaklah sedikit. Saya beri ilustrasi dengan percobaan saya mengirim uang ke rekening saya di Indonesia dari suatu bank di Swedia berikut:  



Untuk mengirim 1000 Swedish Krona (sekitar 1.5 juta sekian rupiah), diperlukan 275 Swedish krona (sekitar 450 ribu rupiah). Hal ini membuat saya berpikir 2-3-4 kali sebelum mentransfer uang ke Indonesia. Jadi gimana dong? Baru-baru ini, saya menemukan solusinya. Solusinya adalah gunakan Transferwise.

Apa itu Transferwise?
Menurut wikipedia: 
"TransferWise is an peer-to-peer money transfer service launched in January 2011 by Kristo Käärmann and Taavet Hinrikus. It is headquartered in London and has offices in Tallinn and New York."

Transferwise adalah perusahaan yang bergerak di jasa pengiriman uang. Salah satu pendirinya, Taavet Hinrikus, merupakan pegawai pertama Skype (itu loh, yang buat video call). Yang membuat transferwise lebih unggul (katanya bisa 8x lebih murah daripada transfer uang internasional antar bank) adalah sistem yang beliau ciptakan. Sederhananya, Transferwise punya banyak rekening bank di berbagai negara. Jika ingin mengirim uang ke negara X, kita tinggal mengirim uang ke rekening Transferwise di negara asal kita, lalu Transferwise akan mengirim uang dengan jumlah yang (kurang lebih) sama, ke rekening tujuan kita di negara X.

Transferwise dapat digunakan untuk mengirim uang ke-dan-dari negara-negara berikut:
1. Negara-negara eropa bermata uang Euro (Jerman, Belanda, dll)
2. United Kingdom 
3. Amerika Serikat
4. Australia
5. Hungaria
6. India
7. Poland
8. Swiss
9. Afrika Selatan
10. Korea Selatan
11. Swedia
12. Denmark
13. Norwegia
14. Kanada
15. Jepang
16. Republik Ceko
17. Bulgaria
18. Singapore
19. Meksiko
20. Sri Lanka
21. Selandia Baru
22. Hongkong
23. Georgia
24. Romania
25. Kolombia
26. Malaysia
27. Filipina
28. Brazil
29. Rusia
30. Bangladesh
31. Pakistan
32. Moroko
33. Cina
34. Thailand
35. United Arab Emirates
36. Ukraina
37. Indonesia
38. Turki
39. Vietnam

 Berikut skema cara kerjanya.

(dari wikipedia)

Contohnya saya mau transfer uang ke rekening pribadi saya di Indonesia dari Swedia:
1.Saya tinggal daftar, isi form dan lain-lain, 
2.Lalu bayar jumlah uang yang mau saya transfer (tambah biaya jasa) ke rekeningnya Transferwise di Swedia,
3.Transferwise akan mengirim uang tersebut dari rekening mereka di Indonesia ke rekening bank yang saya tuju tadi.

Segimana murah sih?
Nih perbandingannya:

Saya Cuma butuh 14.78 Swedish Krona (sekitar 20-sekian ribu rupiah)

Tapi aman gak?

Berdasarkan website Transferwise:
Without the tightest of security, there is no TransferWise. It’s as important to us as it is to you”
Mereka menggunakan bank dan partner dari seluruh dunia, mempunyai tim khusus untuk menjaga keamanan transaksi kita. Semua transaksi dilindungi enkripsi HTTPS standar industry. Dan Transferwise sudah diregulasi dan dikenal di berbagai belahan dunia.
Prosesnya ribet gak?
Cukup simpel. Pertama daftar kamu akan diminta mengisi form data diri standar, lalu kamu harus meng-upload scan paspormu untuk verifikasi. Sesudahnya tinggal ikuti langkah-langkahnya saja. Total waktu pengiriman 1-4 hari kerja.
But wait, there is more!
Kalau kamu daftar lewat link referral saya https://transferwise.com/u/muhammadb41 kamu bisa dapat transfer pertama gratis! Gunakan link tadi untuk daftar saja, sisanya bisa masuk lewat transferwise.com.
Selamat mencoba dan menikmati!
Detailnya tentang regulasi keamanan Transferwise ada di sini https://transferwise.com/help/article/1870573/security/security-and-regulatory-information 

Monday, August 22, 2016

Menunda Pekerjaan...

Ingat dulu saat kamu masih jadi mahasiswa? Ada tugas yang harus segera diselesaikan, tapi kamu malah asik main facebook. Atau di minggu-minggu ujian, bukannya belajar tapi malah liat video kucing salto di youtube, main game, tidur-tiduran dan semacamnya..."belajarnya nanti aja semalem sebelum ujian, santai lah dosennya baik ini". Ingat rasanya? enak dan nagih kan? Lari dari tanggung jawab, bersenang-senang, melupakan kewajiban sebagai generasi penerus bangsa.
TOP 10 REASONS I PROCRASTINATE
  1.  
 Sekarang, sesudah lulus kuliah, masih melakukan hal-hal tersebut? Kalau diberi tugas dari bos, kalau ada sesuatu yang harus dilakukan, kita entar-entaran aja, merasa tenang, lakuin di last minutes aja, lakuin ini dulu-itu dulu-nganu dulu bla bla bla.
Procrastination. The act of delaying or postponing something. Alias menunda-nunda pekerjaan, adalah sesuatu yang to certain degree, kita semua lakukan. Alasannya bisa jadi karena kita merasa masih mager (malas gerak), ngumpulin nyawa dulu, capek, atau merasa waktunya masih banyak, jadi tenang aja. Kalau istilah mahasiswa: tugas dikumpulin besok, ya dikerjakan besok.
Tentang procrastination, ada banyak pro dan kontra. Bill Gates bilang: "To be a good professional engineer, always study late for the exams. Because it teaches you to manage time and tackle emergencies”. Sementara Buddha bilang: "The problem is we think we have time (while we may actually don’t)". Saya sendiri, walau tidak sempurna, lebih cenderung pada orang yang anti-procrastination. Dan ada baiknya kita semua berlatih mengurangi, kalau bisa berhenti menunda pekerjaan. Karena banyak sesal yang bisa datang menghampiri.
Jadi saya punya teman. Anggap saja namanya Mawar. Kami belajar bareng semalam sebelum ujian, lalu ujian besoknya berjalan dengan cukup lancar. Saat hasil ujian dibagikan, si Mawar ini gak lulus hanya karena kurang 1 poin. SATU POIIINNN!!!! Lalu dia bilang begini: "Ah kalau ada sehari lagi aja buat belajar, gue pasti lulus deh ujian ini". Saya kesal lah mendengarnya. Woooooyyy kamu tu diberi waktu seminggu penuh buat mempersiapkan diri buat ujian ituuu! Kenapa baru mulai belajar 12 jam sebelum ujian? Ke mana aje brooo?!
Biasanya kita bakal beralasan ada banyak hal penting lain yang harus dikerjakan dalam rentang seminggu tersebut. Tapi coba refleksikan, berapa banyak hal yang benar-benar urgent yang harus dilakukan? Berapa jam terbuang untuk facebook-an, marathon K-Drama, main CS, DoTA, pacaran, jalan-jalan, yang kalau 20% nya aja dikonversi jadi waktu belajar bisa mengubah hasil ujian?
Saat diberi tugas, kerjaan, atau kewajiban lainnya, penyakit kita adalah menunda-nunda. Kita memilih bersenang-senang dulu, melakukan kewajiban kemudian. We think we have time. Kita pikir kita punya waktu. Sekali lagi, kita pikir kita punya waktu. Kenyataannya? Mungkin tidak. Contohnya si Mawar tadi. Dia memilih untuk belajar di last minute sebelum ujian. Untung dia cuma gagal di ujian, bisa ngambil lagi kuliahnya semester depan. Gimana kalau itu sebuah kerjaan. Bosnya marah lalu dia dipecat...gimana kalau gitu?
Kawan, yang Bill Gates bilang kalau belajar di akhir-akhir melatih kita untuk mengatur waktu dan menangani keadaan darurat (maaf ya kalau di-translate ke bahasa Indonesia jadi jelek kelihatannya) ada benarnya. Tapi ada baiknya kalau belajar lebih awal. Kenapa? Agar lebih siap lagi. We can't be too prepared for battle, saya sih mendingan mandi keringat karena kebanyakan latihan daripada mandi darah sendiri di pertarungan.
Mari bicara tentang aspek kehidupan selain kehidupan sebagai mahasiswa. Ceritanya kamu punya ide bisnis yang brilian nih. Bakal menghasilkan untung banyak, atau bahkan mengubah dunia. Bukannya mulai merintis dan/atau membangun ide tersebut, kamu memilih untuk membiarkan idemu begitu saja. Pembenaranmu: "nanti kalau udah punya cukup modal", "nanti kalau udah nikah", "nanti kalau udah ini-itu" dan bla bla bla lainnya. Nggak salah sih, kamu tidak bisa membangun bisnis, apalagi mengubah dunia dalam semalam. Tapi lagi-lagi refleksikan dengan jujur: berapa kali atau berapa lama setelah itu kamu benar-benar memikirkannya? Benar-benar mengusahakannya? Sampai beberapa waktu kemudian, ternyata ada orang lain dengan ide mirip denganmu dan melakukannya benar-benar jadi kaya dan terkenal...menyesallah dirimu.
Contoh lainnya: Mau melakukan hal yang memang perlu dilakukan. Kuberi beberapa contoh ya:
1. Punya pacar yang abusive, sehingga hubungan gak bahagia. Bukannya diakhiri (atau paling gak diomongin) kamu memilih untuk diam. Alasannya gak enak mutusin (atau ga enak ngomongin kalau si pacar itu kelakuannya buruk).
2. Ada bagian mobil yang rusak. Bukannya dibawa ke bengkel tapi malah dibiarin aja. Alasannya ke bengkel jauh, makan waktu, lagian mobilnya masih bisa jalan.
3. Usia menginjak kepala 3, tapi malas olahraga. Alasannya nanti, sibuk kerja, ngurus anak, dll. Padahal kalau gak kerja dan ngurus anak main gadget doang kerjaannya.
Sepintas semuanya harmless. Tapi semuanya akan jadi bom waktu yang meledaknya gak tau kapan, dan timingnya bisa jelek banget. Tunda-tunda selama 6 bulan, tiba-tiba si pacar main fisik, jadi korban kekerasan deh lo. Tunda-tunda selama 3 bulan, tiba-tiba kerusakan mobilnya merembet hingga gak bisa dinyalain lagi. Tunda-tunda selama 5 tahun, tiba-tiba serangan jantung datang karena gak pernah olahraga.
Kawan, dalam skala kecil procrastinating tidak apa-apa. Dalam kondisi tertentu menunda pekerjaan mungkin juga diperlukan (tunda ngerjain PR karena kebelet, contohnya). Tapi, alangkah baiknya kalau kita melatih diri agar tidak terbiasa menunda-nunda pekerjaan. Pertama, agar tidak terbiasa kebawa ke masalah yang bisa merembet jadi besar (contoh di atas). Kedua, kalau kita sengaja mengerjakan sesuatu dekat-dekat dengan deadline, maka kita akan screwed big time kalau tiba-tiba ada sesuatu lain yang mendadak di saat kita mau mengerjakan pekerjaan tersebut...jadi malah berantakan kan?

Semoga berhasil dalam berlatih menjadi diri yang produktif dan tidak suka procrastinating.
Salam!
Starting to get things done is arduous. But do it now, and enjoy the glory later 

Saturday, August 20, 2016

Lulus Kuliah, Mau Kerja Atau Sekolah Lagi?

Jadi kamu baru saja keluar ruang sidang. Teman-temanmu menyambutmu dengan balon, mengalungimu dengan tulisan gelar (insert S.T, S.Si, S.Pd, S.E, or other title here). Kamu mempost foto-fotomu di instagram, path, atau media sosial lainnya. Ratusan kata selamat kau dengar bagai lantunan musik rapnya Eminem... Perjuangan berbulan-bulan menyusun skripsi pun selesai sudah.


(Lulus nih ceritanya, dapet toga!)

Beberapa waktu setelahnya, seremoni paling sakral di kampusmu diadakan...WISUDA! Ya, perjuanganmu sebagai mahasiswa berakhir di sini. Kau mencopot gelarmu sebagai Agent of Change, Iron Stock, dan Social Control (ada lagi gak sih peran mahasiswa? Lupa, maaf saya bukan mahasiswa yang baik kayaknya dulu ). Pokoknya hari itu kamu sangat bahagia, sampai ada yang bilang Today is yours! Toga kau kenakan, pesta pora pun kau lakukan...hingga hari itu berakhir.


(Masa depan yang cerah pun menanti...Or is it?)

Besoknya, kamu sudah jadi pengangguran! Secara teknis kamu adalah beban negara, sama seperti orang-orang di usia non-produktif (bayi, balita, lansia masuk dalam kategori ini lho!). Well, secara teknis kamu beban orang tuamu sih. Umumnya, ada 3 pilihan sesudah lulus kuliah kamu mau jadi apa, yaitu: 1. Kamu cari kerja. 2. Kamu lanjutkan pendidikanmu ke jenjang yang lebih tinggi. 3. Kamu berwirausaha. Apapun pilihanmu, biasanya akan ada pro dan kontranya, kamupun memasuki masa-masa galau. Galau karena sudah gak ketemu teman-temanmu lagi, galau mau ngapain habis ini, sampai galau karena orang tua nyuruh cepat nikah. Kali ini saya mau membahas antara lanjut sekolah, atau cari kerja, beserta membahas beberapa paradigma yang menempel di masyarakat Indonesia. Siap?


FRESH GRADUATE NIH. CARI KERJA LAH!

Bagi kamu (kecuali mungkin 5% dari populasi mahasiswa yang belum lulus sudah di-take sama perusahaan buat kerja), beres kuliah langsung bekerja merupakan pilihan yang penuh tantangan. Kenapa? Kamu harus rela keluar dari zona nyamanmu. Tidak ada lagi yang namanya bisa bangun siang karena kuliah siang (kecuali memang kamu dapat kerja shiftnya shift siang). Kamu merasa senior dan/atau dosenmu killer? Siap-siap menghadapi bosmu dan sikut-sikutan di kantor! Tidak ada lagi libur-libur panjang tiap semester seperti saat kamu kuliah dulu. Secara teknis, kamu sudah menjadi orang dewasa sepenuhnya. Dengan mendapat gaji, kamupun sudah bisa mandiri secara finansial.

Jika kamu berniat berkecimpung di dunia profesional setelah lulus kuliah, biasanya orang tua dan keluarga besarmu sudah menganggapmu dewasa, maka kamu tidak lagi mendapat THR di hari raya, kamu pun akan mulai ditanya kapan mengakhiri masa lajangmu. Dari sesudah wisuda sampai kamu benar-benar dapat kerja, bisa memakan waktu hitungan minggu hingga bulan. Di waktu-waktu kritis tersebut kamu akan mengalami yang namanya bolak-balik sana-sini fotokopi ijazah, bikin CV, datang ke job fair, dan segala keribetannya. Ditambah lagi, jika kamu mengetahui kalau jurusanmu ternyata kurang populer di bursa dunia kerja (curhat: contohnya Teknik Material kurang populer dibanding Teknik Mesin dan Teknik Sipil...paling tidak di Indonesia) maka akan lebih susah lagi bagimu untuk mencari pekerjaan. Setelah dapat kerja pun bukan berarti hidupmu jadi lebih mudah. Kamu bisa saja disuruh lembur, pulang baru jam 2 dini hari (jadi inget jaman ospek dulu ya?). Kamu bisa saja dikirim buat kerja di daerah-daerah di Indonesia yang jangankan ada internet, angkutan umum pun jarang. In short, kamu juga mesti mengabdi buat perusahaan tempatmu bekerja, kalau tidak negara. Nah, jika kamu berfikir kamu belum siap akan kerasnya dunia kerja, mungkin kamu berniat lanjut kuliah dulu?


GAPAI PENDIDIKAN SETINGGI-TINGGINYA, LANJUT S2 KALAU PERLU S3!

Entah karena kamu belum move on dengan kehidupan kampus, kamu memang memiliki passion dengan bidang keilmuanmu, atau disuruh orang tua. Keputusan untuk mengubah gelarmu dari sarjana menjadi magister (atau doktor) juga memerlukan pertimbangan tersendiri. Pertimbangan yang paling utama mungkin masalah finansial. Usia sudah 22 (asumsi masuk kuliah S1 dulu 18 tahun dan lulusnya 4 tahun) lebih tapi masa masih minta duit dari orang tua? Untuk melanjutkan pendidikanmu ke jenjang yang lebih tinggi perlu uang yang tidak sedikit.

Solusinya? Beasiswa lah! Kamu mungkin berpikir seperti itu. Memang benar dewasa ini beasiswa pendidikan bertebaran, Mulai dari dapat makan gratis, sampai biaya hidup dan biaya pendidikan ditanggung oleh penyelenggara beasiswa. Tapi masalah tidak selesai sampai di situ. Pertanyaan yang perlu kamu jawab adalah: Apa yang ingin kamu capai dengan menempuh jenjang yang lebih tinggi ini?

Beberapa beasiswa menawarkan studi pascasarjana di luar negeri dengan gratis. Mereka akan membayar biaya pendidikanmu, memberimu uang saku yang jika dikonversikan ke rupiah mungkin lebih besar dari kebanyakan gaji fresh graduate sekarang. Contohnya beasiswa dari LPDP, Swedish Institute dari Swedia, Chevening dari Inggris, dan Monbugakusho Jepang. Sepintas kita akan berpikir: Asik dong! Udah belajar, “dibayar” mahal, dapat kesempatan jalan-jalan ke luar negeri lagi! I’m telling you, brothers and sisters, this is where you are dead wrong!


(Mumpung dapet beasiswa di Eropa nih, Jalan-jalan ke Belanda dulu laaaah)

Mereka-mereka yang berangkat ke luar negeri, terutama dengan bantuan beasiswa, umumnya merasa bahagia karena mendapat kesempatan jalan-jalan di tempat yang dulu hanyalah impian belaka. Kita akan sering melihat posting-an di media sosial bahwa si X sedang jalan-jalan ke Paris, si Y sedang selfie dengan aurora sebagai latar belakangnya, si Z nulis greeting card buat adik kelasnya (atau PDKT-annya) di Indonesia? Well, itu semua nggak ada salahnya, mereka (dan saya) memang having a good time berkuliah di luar negeri. Hanya saja, jika dulu kalian memutuskan untuk studi ke luar negeri sekaligus aji mumpung buat jalan-jalan, bersiaplah ditampar oleh kenyataan.
BEING (POST-GRAD) STUDENT CAN BE A CURSE
Tahukah kamu di balik selfie si X, Y, dan Z yang terlihat bahagia itu, tersimpan kerja keras yang gak main-main? Biasanya mahasiswa bisa jalan-jalan setelah ujian atau saat winter/ spring break. Sebelum itu? Ya isinya perjuangan semua. Kadang kelas dimulai saat matahari belum terbit dan berakhir setelah matahari terbenam (di eropa kalau musim dingin ini benar-benar terjadi). Lalu tugas-tugas yang menumpuk, yang kadang membuat si mahasiswa harus membaca belasan halaman hanya untuk menyelesaikan tugas dengan topik yang baru buat dia. Belum lagi revisi-an ini itu, kerja di lab sampai gak pulang, dan sebagainya. Kalau dipikir-pikir sepintas, habis lulus S1 langsung kerja nampaknya lebih bijak. Kerja aja jam 9-5 tiap hari, digaji sehingga keadaan finansial aman, gak perlu banyak mikir, dan lain-lain lah…paling nggak itu yang pernah dikatakan salah satu kerabat saya.

(Mau hunting foto Aurora kayak gini? Begadang 3 hari dulu buat siap-siap ujian!)


(Atau mau pose macem jagoan di Skogafoss, Iceland? Nabung dulu berbulan-bulan! Lu kira tiket murah?)

Hidup sebagai mahasiswa pascasarjana di luar negeri (bisa jadi) lebih sengsara daripada orang-orang yang memilih kerja setelah lulus kuliah S1 nya. Belum lagi ditambah jauh dari rumah. Kangen keluarga, kangen pacar (maaf ya yang jomblo), kangen masakan Indonesia, culture shock, dan banyak lagi deh! Dengan beasiswa, kamu akan dapat uang saku yang kalau dirupiahkan, nilainya sekitar 10-20 juta perbulan. Lebih besar dari kebanyakan gaji fresh graduate sarjana. Tapi bukan berarti kamu bisa hidup enak di sana. Biaya hidup di luar negeri tidaklah murah. Sebagai gambaran saja, di beberapa negara di Eropa, biaya apartemen (atau kost) sekitar 5 juta rupiah sebulan. Mau makan di luar? rogoh kocek dulu 150-200 ribu per orang. Nah, kalau begitu kan hidup gak senikmat yang dibayangkan. Intinya, banyak struggle tersendiri yang perlu kita hadapi sebagai mahasiswa internasional.
BERES NIH CERITANYA S2, ASIK DAPET GAJI GEDE DONG!
Itu harapan kita semua, gaji yang lebih besar. Tapi emang iya? Coba cari di website kayak jobstreet atau lihat ke career fair yang diselenggarakan di Indonesia. Berapa persen yang mensyaratkan lulusan S2 (atau S3)? Jawabannya hampir gak ada. Lho kok bisa? Susah-susah kuliah ekstra 2 tahun nih tapi kok malah gak ada yang mau? Kalaupun ada gaji dan posisinya gak beda jauh dengan yang S1? Kok beginiiii????!
Makanya aku bilang tadi, siap-siap ditampar oleh kenyataan! Memang begitu di Indonesia. Saat ini memang lulusan S1 (atau D3) diutamakan untuk kerja. Dan daripada lulusan S2, perusahaan akan memilih lulusan S1 dengan pengalaman 2 tahun kerja. Logikanya sama-sama menghabiskan waktu 2 tahun, mending milih yang sudah pengalaman kerja.

JADI APA MENDING GUA KERJA AJA? GAK USAH S2 GITU?
Don’t ask me. Pilih yang sesuai dengan minat dan kebutuhanmu. Sebelum memutuskan, get in touch with yourself. Yakinkan dirimu tentang mana yang mau kamu pilih. Kalau kamu maunya S2 karena merasa pengetahuanmu kurang atau merasa belum siap kerja, ngapain maksain kerja? Stres sendiri nanti. Kalau kamu merasa butuh siap kerja dan merasa banget duit (misal perlu bantu biaya pendidikan adikmu), ya jangan maksain sekolah lagi.
Perbedaan antara sarjana dan pascasarjana itu kurang lebih seperti ini:
Sarjana: Mengaplikasikan pengetahuan dan menggunakannya untuk berbagai keperluan praktikal
Pascasarjana: Memproduksi pengetahuan dan menyiapkan standar penggunaan pengetahuan tersebut.
Jadi kalau melihat kebutuhannya di masyarakat, sarjana diperlukan untuk membangun masyarakat (or more: membangun bangsa). Namun, kita juga perlu orang yang memperluas pengetahuan kita dan mengaplikasikannya sampai tingkat praktikal. Ilustrasi sederhananya, sarjana harus tau logam mana yang cocok dipakai untuk pipa bawah laut beserta perawatannya, pascasarjana mengembangkan jenis logam yang (ceritanya saat ini belum ada) bisa dipakai di bawah laut yang lebih dalam. Jadi memang keduanya diperlukan kok. Hanya saja mungkin di Indonesia belum terlalu banyak pascasarjana (lulusan S2 atau S3) yang diperlukan.


(Saat melarin karet aja perhitungannya bisa 2 papan tulis, itulah pendidikan master)

Ada pertimbangan lain nih, kalau kamu memang mempertimbangkan gaji dan memang ingin melanjutkan studimu ke jenjang S2 atau S3. Banyak perusahaan multinasional (contohnya Rolls Royce) yang mensyaratkan pendidikan minimal master (S2) untuk menjadi pegawainya. Gajinya pun memang jauh lebih besar untuk entry level. Tapi perhatikan kata MULTINASIONAL nya. Artinya seleksi masuk perusahaan tersebut akan lebih ketat dan hanya kandidat terbaik yang terpilih. Jadi kalau kamu memutuskan untuk kuliah (S2) maka jalan satu-satunya adalah do your best. Persiapkan dirimu agar qualified untuk beasiswa, lalu belajar yang serius nanti saat kamu kuliah, sehingga kamu bisa lulus dengan nilai yang memuaskan dan jalanmu menuju karir yang cemerlang lebih terbuka (This goes without saying bahwa kalau mau kerja juga harus lakukan yang terbaik saat seleksi dan saat kerja, kalau nggak ya dipecat dong? Haha)

BEBERAPA PERTIMBANGAN
Setelah berbincang dengan beberapa teman, saya bisa menyimpulkan bahwa baik kerja maupun lanjut S2 setelah lulus kuliah ada pro dan kontranya. Saya rangkum untuk bahan pertimbangan kalian ya.
I. Setelah Lulus Kuliah Langsung Kerja
Pro:
1.  Mandiri secara finansial (dalam artian juga bisa planning ini-itu dengan pasti karena ada pemasukan rutin)
2.   Dapat pengalaman kerja (yang di masa depan bisa dipakai untuk melamar ke pekerjaan yang lebih bagus)
3.    Kesempatan bekerja sama dengan orang dari latar belakang yang berbeda.

Kontra
1.      Berhadapan dengan politik, drama, sikut-sikutan dunia kerja. Perlu kedewasaan yang tinggi dalam menghadapi ini.
2.      Kadang perlu belajar hal yang sangat baru, tergantung permintaan bos
3.      Bisa kalah bersaing kalau tren nanti banyak anak muda yang S2 (melihat banyaknya beasiswa yang ditawarkan sekarang)

II. Setelah Lulus Kuliah Lanjut S2
Pro:
1.   Menaikkan harga “jual” (secara global)
2.   Menambah ilmu.
3.  Skill dan networking yang tidak mudah didapat di Indonesia (kalau ke luar negeri bakal bergaul dengan banyak orang dari berbagai negara)
Kontra:
1.      Lowongan kerja jika sudah lulus nanti, di Indonesia masih sedikit
2.      Kadang perlu belajar hal yang baru (sama kayak kerja kan?!)
3.   Nanti saat kerja setelah lulus S2 nya, dapat tantangan kerja yang sama (lihat kontranya langsung kerja)


PENUTUP

Apapun keputusan yang kalian ambil, jangan lupa hal-hal berikut:
1.      Jangan malas, apalagi berhenti belajar
Kalau kamu S2, belajar yang rajin (ini sudah dibahas tadi). Kalau kamu kerja, belajar juga perlu. Kamu akan perlu skill-skill lain yang mungkin dulu tidak terpikirkan saat kamu kuliah (misal: mahasiswa teknik sipil tapi kadang perlu pemrograman, belajar bisnis dan manajemen)
2.      Keep an Open Mind
Kalau kamu sudah kerja, jangan mentang-mentang sudah bergaji, merendahkan si yang kuliah S2. Begitu pula sebaliknya, mentang-mentang beasiswa di luar negeri, memandang rendah yang “hanya” lulusan S1. Tiap orang punya jalannya masing-masing. Bodoh kalau membanding-bandingkan dan merendahkan satu sama lain (Katanya kaum terpelajar?)
3.      Do Your Best
Ini termasuk berperforma bagus, datang tepat waktu, dan membangun relasi antar kolega (kalau kamu kerja). Jangan lupa belajar dengan rajin, kerjakan tugasmu, raih nilai terbaik (kalau kamu memutuskan untuk S2 atau S3)


4. Lakukan Dengan Integritas
    Ini termasuk dari poin 3 di atas, tapi ini perlu ditekankan berkali-kali. Kenapa? Karena integritas adalah sesuatu yang tidak terlihat namun dampaknya besar! Kalau kamu kerja tanpa integritas, kamu tidak akan mencintai pekerjaanmu, kamu tidak jujur pada dirimu sendiri (apalagi kolegamu), kamu bakal kerja setengah-setengah. Kalau kamu sekolah (terutama dengan beasiswa) tanpa integritas, kamu akan menuntut ilmu setengah-setengah, percuma negara (atau organisasi lain penyelenggara beasiswa) membayarmu untuk belajar. Tanpa integritas, karirmu tidak akan cemerlang dan ilmu yang kau capai tidak akan bermanfaat.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan menginspirasi.

Earth Brick and Stone: Workshop Frenzy